4 Bukti Menguatkan Teori Tektonik Lempeng

teori tektonik lempengTeori Tektonik Lempeng – Pada tahun 1910, Afred Wegener mulai menulis artikel dan memberikan kuliah tentang konsep Continental Drift (Benua Terapung) yang menjadi cikal bakal Teori Tektonik Lempeng. Konsep Benua Terapung menjelaskan bahwa benua tidak selamanya berada pada posisi tetap melainkan terus bergerak sepanjang waktu atau “Terapung”. Afred Wegener dalam konsepnya mengatakan bahwa pada awalnya terdapat satu benua besar (super continent) yang dinamakan PANGAEA (dibaca: Pan-JEE-ah) dari bahasa Yunani yang berarti Semua Daratan. Pangaea ini terpecah menjadi beberapa benua dan saling bergerak satu sama lainnya.

Afred wegener dalam artikel dan kuliahnya sudah menyampaikan banyak bukti namun tetap saja konsep baru ini mendapatkan penolakan dari sebagian besar geologist ada masa itu. Sampai akhirnya Afred Wegener meninggal pada tahun 1930, konsepnya masih belum bisa diterima. Sampai akhirnya pada pada tahun 1960-an atau 30 tahun setelah dia meninggal baru ditemukan bukti kuat. Berikut ini beberapa bukti tentang kebenaran Teori Tektonik Lempeng yang digagas oleh Afred Wegener, beberapa bukti ini ditemukan oleh Afred Wegener dan kawan-kawannya namun beberapa ditemukan setelah beliau meninggal.

Kesamaan Garis Pantai

lempeng amerika dan afrika

Lempeng Amerika dan Afrika yang awal bersatu (sumber: Thompson & Turk, 1997)

Apabila kita melihat peta dunia, bentuk pantai benua Afrika sama persis dengan benua Amerika dan bentuk pantai bagian selatan benua Australia juga sama persis dengan sebagian pantai benua Antartika. Apakah dulu kedua benua ini bersatu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus mengetahui dimana sebenarnya batas benua tersebut. Batas benua dominannya terbentuk dari batuan granit dan untuk memetakan batas benua sebenarnya bisa dilakukan dengan memetakan batas batuan granit yang ada di kawasan pantai kedua benua tersebut. Selain itu, untuk menentukan dimana batas kerak benua (granit) dan kerak samudra (basal) biasanya diambil dari batas setengah kemiringan lereng kerak benua di kawasan lepas pantai.

Setelah dilakukan pemetaan batas kerak benua antara benua Afrika dengan Amerika dan disatukan. Hasilnya kedua kedua benua tersebut cocok dengan sempurna, hanya sekitar 90 kilometer terjadi overlap batas kedua benua dan yang lain pas dengan sempurna. Sejak saat itu, mulai dipercaya bahwa kedua benua tersebut pada awalnya memang bersatu.

Kesamaan Karakteristik Geologi

Jika benua Afrika dan Amerika dulunya bersatu, maka di kedua harus memiliki karakteristik geologi yang sama. Beberapa kesamaan karakteristik geologi sudah disampaikan oleh Afred Wegener untuk menguatkan hipotesa tentang Continental Drift. Namun demikian, mencari kesamaan karakteristik geologi dari batuan di kedua benua bukanlah perkara yang mudah. Beberapa batuan di kedua benua tersebut terbentuk sebelum keduanya berpisah, ada yang terbentuk ketika keduanya berpisah dan ada juga yang terbentuk setelah keduanya terpisah. Jadi bagaimana mencari kesamaan karakteristik geologi di kedua benua tersebut?

Hal yang pertama yang harus dilakukan adalah mencari kesamaan jenis dan umur batuan di kedua benua tersebut. Pada masa Afred Wegener, belum ada ilmu untuk menghitung umur batuan namun sekarang ini sudah metode untuk menghitung umur batuan. Terdapat batuan dengan umur yang sama sekitar 550 juta tahun di bagian timur laut Brazil dan barat Afrika. Namun untuk batuan yang muda banyak yang tidak sama karena terbentuk setelah kedua benua ini terpisah. Dijumpainya batuan dengan umur 550 juta di kedua benua tersebut menjadi indikasi bahwa sekitar 550 juta tahun yang lalu, benua tersebut masih bersatu.

Selain kesamaan jenis dan umur batuan, kesamaan lain yang terdapat di kedua benua tersebut adalah kesamaan rantai pergunungan dan lapisan es purba. Deretan pergununan Appalachian yang dimulai dari sisi timur laut Amerika Serikat sampai dengan sisi timur Canada ternyata memiliki kesamaan dengan deretan pergunungan Caledonides di Irlandia, Inggris dan Scandinavia. Batuan termuda di dari deretan pergunungan Appalachian sama dengan deretan pergunungan di Eropa dan Afrika dan ini menguatkan bukti bahwa kedua bedua tersebut memang dulunya bersatu.

Kesamaan Fosil

Apabila benua Afrika dan Amerika dulunya bersatu maka pada waktu yang bersamaan hidup binatang yang sama dan tumbuh tumbuhan yang sama. Untuk membuktikan ini, Afred Wegener mempelajari rekaman fosil masa lalu. Afred Wegener menemukan fosil pohon paku purba Glossopteris yang ditemukan di selatan Afrika, Selatan Amerika, Australia, India, dan Antartika. Bibit paku Glossopteris besar dan berat sehingga tidak mungkin bibit tersebut dibawah jauh oleh angin dan air ke masing-masing benua tersebut. Ditemukan fosil paku purba Glossopteris menjadi indikasi bahwa dulunya benua Afrika, Amerika, Australia, India dan Antartika bersatu dalam sebuah benua besar yang dinamakan Pangaea. Hal lain yang menguatkan penemuan fosil ini adalah tumbuhan paku Glossopteris merupakan tumbuhan yang tumbuh di iklim dingin dan waktu kesemua benua tersebut bersatu, iklimnya sama.

kesamaan fosil

Kesamaan Fosil yang ditemukan di benua Amerika, Afrika, India, Antartika, dan Australia memberikan bukti dulunya benua tersebut bersatu dalam benua Pangaea (Sumber: Thompson & Turk, 1997)

Selain tumbuhan, fosil binatang reptil Mesosaurus juga ditemukan di selatan Brazil dan selatan Afrika. Jenis batuan sedimen di kedua benua tempat fosil Mesosaurus ditemukan juga sama. Reptil Mesosaurus tidak dapat berenang, bagaimana mungkin fosilnya ditemukan di dua benua yang terpisah jauh? Ini mengindikasikan bahwa tempat ditemukan fosil Mesosaurus dulunya adalah daratan yang sama atau bergabung dan sekarang berpisah akibat pengaruh tektonik lempeng.

Medan Magnet Purba (Paleomagnetism) di Zona Pemekaran Samudra

Afred Wegener meninggal pada tahun 1930, dan pada saat itu masih ada orang yang meragukan konsep Continental Drift yang beliau usulkan. Setelah beliau meninggal, kawan-kawan setianya terus memperjuangkan konsep tersebut. Pada tahun 1950-an, dimulailah suatu penelitian tentang medan magnet purba yang dikenal dengan istilah Paleo-Magnetik. Paleo-Magnetik merupakan ilmu yang mempelajari arah medan magnet bumi purba yang terekam dalam batuan selama proses pendinginan batuan tersebut. Selengkapnya pernah saya singgung dalam artikel Medan Magnet Sebagai Pelindung Bumi.

medan magnet purba

Arah polarisasi medan magnet bumi purba yang didapatkan di batuan di dasar samudra pada zona pemekaran samudra (Sumber: Kious. J.W, dan Tilling. R.I., 1996)

Pada tahun 1960-an, para ilmuan mulai mengkaji Paleo-Magnetik yang terekam pada lempeng samudra di samudra Atlantik. Dari penelitian tersebut ditemukan beberapa seri arah medan magnet bumi purba yang sama. Kesamaan berada pada sisi yang berlawanan dari tengah-tengah zona pemekaran samudra (seafloor spreading). Lebih lengkap seperti gambar di bawah ini.

Bukti paleomagnetism di kerak samudra Atlantik makin memperkuat konsep continental drift, dari kajian tersebut ditemukan bahwa di tengah-tengah samudra Atlantik ada yang lempeng bumi yang terus bergerak menjauh. Hal ini ditemukan pada pola simetris arah medan magnet bumi purba yang terekam pada kerak samudra.

Setelah ditemukan beberapa bukti seperti yang sudah saya jelaskan di atas, pada tahun 1960-an para ilmu sudah sangat yakin dengan konsep continental drift yang digagas oleh Afred Wegener. Pada akhirnya konsep Afred Wegener dinamakan sebagai Teori Tektonik Lempeng. Dinamakan Teori karena sudah ditemukan banyak sekali bukti ilmiah dan pengujian. Pada awalnya masih dianggap Hipotesa atau dugaan awal.

Semoga artikel tentang Bukti Kebenaran Teori Tektonik Lempeng ini menambah khazanah ilmu pengetahuan bagi anda pembaca setia Blog Melek Bencana.

Sumber Bacaan:

  • Kious. J.W, dan Tilling. R.I., 1996, This Dinamic Earth: The Story of Plate Tectonics, USGS, US.
  • Murck. B., (2001). Geology (A Self-Teaching Guide), Jhon Wiley & Sons, Inc. Canada.
  • Thompson, G.R., dan Turk, J., 1997, Introduction to Physical Geology, Brooks Cole.
Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.