8 Hal Kecil Yang Bisa Menyelamatkanmu Dari Bencana

rute penyelamatan

Bencana sering kali terjadi tanpa ada peringatan sehingga kesiapsiagaan kita dalam menghadapinya mutlat diperlukan. Dalam beberapa artikel sebelumnya, saya pernah menjelaskan tentang bagaimana agar selamat dari Gempa Bumi, selamat dari gunung meletus, selamat dari Banjir, selamat dari kebakaran, dan berbagai bencana alam lainnya. Pada kesempatan kali ini saya ingin merangkum, kira apa hal kecil yang harus kita miliki agar kita bisa selamat dari berbagai macam bencana? Berikut ini saya jelaskan ke-8 hal kecil yang harus kita miliki kalau kita ingin selamat;

1. Mempersiapkan Tas Siaga Bencana

Tas siaga bencana merupakan sebuah tas yang kita siapkan untuk menghadapi keadaan darurat. Dalam tas tersebut kita mengisi segala sesuatu yang kita anggap penting demi kelangsungan hidup kita setelah bencana.

Misalnya saja, untuk kelangsungan hidup kita beberapa hari setelah bencana, dalam tas siaga bencana akan kita masukan air mineral, biskuit tinggi protein, selimut darurat aluminium, dan beberapa peralatan bertahan hidup lainnya.

Untuk keberlangsungan hidup dalam jangka panjang setelah bencana, tentu saja kita harus memasukan surat-surat penting kedalam tas siaga bencana. surat tanah, buku tabungan, ijazah, dan surat-surat penting lain.

Untuk mengetahui bagaimana merancang tas siaga bencana, silahkan baca artikel saya “Mengenal dan Merancang Tas Siaga Bencana

Bagi yang malas baca, silahkan nonton video youtube di bawa ini…

2. Kenali Rute Penyelamatan

rute penyelamatan

Kenali Rute Penyelamatan Anda (http://safesteps.com/Indonesian/)

Hal yang kedua yang harus miliki oleh setiap individu agar selamat dari bencana, kenali rute penyelamatan anda. Apabila anda melakukan perjalanan ke tempat baru dan menetap beberapa hari disana, hal yang pertama yang harus anda ketahui adalah jalur penyelamatan.

Hampir semua tempat penginapan dan hotel di Indonesia, menempelkan denah jalur evakuasi di dalam kamar hotel. Saran saya, fahami jalur tersebut! karena kita tidak pernah tahu bencana apa yang akan terjadi dan kapan terjadinya.

Setelah mengetahui jalur evakuasi di dalam gedung, selanjutnya kita harus mengetahui jalur evakuasi di luar gedung yang menuju ke tempat aman. Misalnya saja tempat kita menginap dekat dengan pantai, maka kita harus tahu kemana arah menuju ke tempat tinggi.

Selain mengetahui jalur evakuasi ketika berkunjung ke tempat baru, jalur evakuasi di tempat kita tinggal dan bekerja juga harus kita pahami dengan benar sehingga apabila bencana terjadi, kita dapat bereaksi dengan cepat dan tepat.

Metode School Watching yang saya paparkan dalam artikel School Watching bisa anda gunakan untuk membuat jalur evakuasi di tempat anda tinggal dan bekerja.

3. Menyiapkan Tempat Evakuasi

Setelah kita mengetahui jalur Evakuasi, hal ke-tiga yang harus kita lakukan adalah menyiapkan tempat evakuasi. Kita sudah mengetahui jalur evakuasi dengan baik namun tempat evakuasi yang tidak mendukung kita untuk bertahan hidup di sana bisa jadi masalah.

bangunan evakuasi di aceh

Salah satu bangunan evakuasi (escape building) yang dibangun di Aceh pasca tsunami 2004 (sumber foto: http://www.atjehcyber.net/)

Misalnya saja di belakang perkampungan tempat kita tinggal ada satu bukit yang bisa menyelamatkan kita dari bencana tsunami, maka tempat evakuasi tersebut harus kita bangun sebuah bangunan kecil yang di dalamnya bisa menyimpan, makanan, minuman dan berbagai keperluan lainnya untuk beberapa hari masa tanggap darurat.

Apabila di sekitar tempat kita tinggal sudah dibangun bangunan evakuasi, maka di dalam bangunan evakuasi tersebut harus kita simpan beberapa keperluan bersama selama beberapa hari masa tanggap darurat.

4. Merancang SOP Keadaan Darurat

Setelah mengetahui jalur evakuasi, tempat evakuasi, hal yang ke-empat harus kita miliki adalah SOP (Standard Operating Procedure) khusus keadaan darurat. Dalam SOP keadaan darurat harus diatur siapa berbuat apa dan bagaimana. Misalnya saja, apabila terjadi bencana di sebuah desa, siapa yang akan memberikan peringatan kepada warga, siapa yang akan menghubungi pihak berwenang. Dalam artikel Desa Siaga Bencana, saya sudah menjelaskan tentang bagaimana membentuk organisasi desa siaga bencana.

SOP keluarga

Selain SOP tingkat desa, tingkat sekolah juga bisa dibuatkan SOP keadaan darurat. Cara membuat SOP sekolah ada di artikel sekolah siaga bencana di website ini.

Kita sebagai keluarga juga harus memiliki SOP keadaan darurat untuk keluarga. Misalnya saja kita bekerja dengan tempat yang aman dari bencana tsunami, sedangkan anak dan istri kita tinggal di rumah yang merupakan kawasan rawan tsunami. Ketika terjadi gempa besar, pasti anak dan istri kita akan lari menyelamatkan diri menjauh dari daerah rawan tsunami. Supaya kita dari kantor tidak kembali ke rumah, harus disepakati bersama dimana harus berjumpa apabila terjadi gempa besar.

Dengan membuat SOP darurat masing-masing keluarga, mudah-mudahan seluruh keluarga kita bisa selamat dari berbagai macam bencana dan cepat bisa berkumpul kembali.

5. Menambah Ilmu Bencana

Ilmu bencana saat ini dapat dipelajari dengan mudah dimana saja dan kapan. Melalui website BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) yang tersebar di setiap Kabupaten di Indonesia, kita dapat belajar bencana. Disana ada beberapa ilmu tentang dasar bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, upaya mitigasi, dan lain sebagainya yang dapat kita baca.

sekolah siaga bencana

Penulis ketika memberikan perlatihan dan ilmu bencana kepada anak-anak sekolah

Mengapa ilmu bencana diperlukan? Apabila kita sudah memahami dasar dan proses terjadinya bencana maka kita akan tahu harus berbuat apa ketika bencana terjadi. Dengan belajar ilmu bencana, kita juga akan tahu tanda-tanda akan terjadinya bencana.

Dengan membaca ilmu bencana, kita akan mendapatkan informasi, setelah mendapatkan informasi maka kita akan mendapatkan pengetahuan tentang apa itu bencana. Setelah mendapatkan pengetahuan, maka kita akan tahu bagiamana harus bertindak. Ketika kita tahu bagaimana harus bertindak maka kita akan melakukan sesuatu yang tepat untuk menyelamatkan diri kita. Pada akhirnya kita menjadi manusia yang tangguh dalam menghadapi bencana.

6. Belajar Cara P3K

(credit to: PMI dan Joko Dwi Cahyono, S.Pd)

(credit to: PMI dan Joko Dwi Cahyono, S.Pd)

Belajar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah sesuatu yang wajib diketahui oleh masing-masing individu. Ini adalah dasar kita untuk bisa menyelamatkan diri sendiri dan orang lain.

Dalam beberapa kali pelatihan bencana yang kami laksanakan, kami selalu mengajak kawan-kawan dari PMI untuk menjelaskan P3K kepada para peserta pelatihan bencana.

Bagi yang belum mengetahui cara melakukan P3K, sudah saat kita belajar sehingga tidak menyesal di kemudia hari.

7. Belajar Ilmu Bertahan Hidup (Survival)

Bertahan hidup atau Survival adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup dengan segala sumberdaya yang terbatas. Misalnya saja setelah terjadi bencana tsunami dan kita berada di atas bukit evakuasi. Tim penyelamat bisa saja datang dalam waktu dekat namun tidak tertutup kemungkinan akan datang pada waktu yang sangat lama. Mampukan kita bertahan hidup? Untuk menjawabnya, tentu kita harus memiliki ilmu dasar bertahan hidup.

Dalam ilmu bertahan hidup di hutan atau tempat terpencil lainya, ada triple 3 yang harus selalu diingat; manusia bisa hidup 3 menit tanpa udara, 3 hari tanpa air dan 3 bulan tanpa makanan. Dari tiple 3 dapat diketahui bahwa hal pertama yang menjadi kebutuhan manusia apabila terdampar di hutan adalah air.

Manusia bisa hidup 3 menit tanpa udara, 3 hari tanpa air dan 3 bulan tanpa makanan

Air yang ingin diminum harus dimasak supaya tidak menimbulkan penyakit, untuk memasak air diperlukan api. Bagaimana cara membuat api dari kayu kering juga harus dipelajari apabila kita tidak memiliki korek api. Setelah punya air, dan api selanjutkan kita harus tahu bagaimana membuat tempat tinggal sementara dan mencari makanan. Membuat perangkap hewan juga harus dipelajari supaya kita bisa punya sesuatu untuk dimakan.

Ilmu dasar Survival, ada di video di bawah  ini.

8. Mengikuti Drill atau Simulasi Bencana

simulasi bencana

Simulasi Bencana yang dilaksanakan di Aceh pada tanggal 26 Oktober 2014 lalu (Sumber: Serambi Indonesia)

Supaya kita bisa tanggap dan tidak panik dalam menghadapi bencana, maka setiap kita harus sering-sering melakukan simulasi bencana. Beberapa sekolah sudah mulai melakukan simulasi bencana, beberapa BPBD juga memiliki program tahunan untuk melakukan simulasi bencana. Saran saya, apabila ada simulasi bencana maka ikutilah. Tidak tidak pernah tahu kapan bencana terjadi dan bagaimana kondisi kita pada waktu bencana terjadi.

Bencana alam di Indonesia sangat beragam, dan semoga 8 hal yang bisa menyelamatkan kita dari bencana ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita makin siaga.

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.