Bagaimana Gua Merekam Tsunami Aceh 7.400 Tahun Lalu

Tsunami di Aceh tahun 2004 telah mengingatkan kita akan bahaya bencana tsunami di sepanjang pantai barat-selata pulau Sumatra.

Tsunami Aceh tahun 2004 diyakini bukan yang pertama sekali terjadi. Jauh sebelum 2004, tsunami telah banyak melanda provinsi Aceh dan kawasan pesisir pulau Sumatra.

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis artikel tentang Tsunami Aceh 1000 tahun lalu dan Tsunami Aceh 2000 tahun lalu.

Dalam artikel tersebut saya menjelaskan pada tahun berapa saja tsunami terjadi di Aceh berdasarkan hasil penelitian Ibu Katrin, saya dan kawan-kawan peneliti yang lain serta hasil penelitian dari Jankaew dan kawan-kawan.

Pada kesempatan ini, akan menjelaskan tentang hasil penelitian yang baru saja dipublikasikan 19 Juli 2017 di Nature Communication, tentang rekam jejak tsunami Aceh sejak 7400 ribu sampai dengan 2900 tahun yang lalu yang ditemukan di dalam sebuah gua di pinggir pantai.

Sedikitnya mereka menemukan 11 kali tsunami yang menerjang Aceh sejak 7400 s/d 2900 tahun yang lalu berdasarkan endapan sedimen tsunami yang ditemukan di dalam gua.

Tsunami purba yang ditemukan oleh peneliti ini merupakan kejadian tsunami yang berbeda dengan tsunami yang ditemukan oleh Katrin dan Jankaew.

Hasil penelitian tsunami purba di Gua Aceh tersebut diberi judul oleh penulisnya “Highly variable recurrence of tsunamis in the 7,400 years before the 2004 Indian Ocean tsunami” dan dapat diakses melalui laman: https://www.nature.com/articles/ncomms16019.

Mengapa Gua?

gua tsunami aceh

Proses pengendapan endapan tsunami di dalam gua pinggir pantai di Aceh. (Sumber: Rubin, et al., 2017)

Ketika tsunami terjadi, banyak sekali endapan laut baik berupa pasir, lumpur, cangkang kerang, siput dan kayu-kayu terbawa ke daratan. Sering kali endapan tsunami berupa pasir dan lumpur tersebut apabila terendapkan di tempat terbuka lama-lama akan hilang karena tererosi oleh angin dan air hujan.

Seperti halnya endapan tsunami 2004, hampir di seluruh kota Banda Aceh kita menemukan endapan tsunami 2004 beberapa bulan setelah tsunami terjadi, tapi sekarang kita sangat susah menemukan endapan tsunami di Banda Aceh.

Endapan tsunami 2004 tersebut, ada yang bersihkan oleh warga, ada yang tererosi oleh air hujan, adanya juga yang terbawa oleh angin.

Artinya endapan tsunami akan mudah hilang apibila terendapkan di tempat terbuka namun tidak dengan Gua. Gua Lhoong yang berada beberapa Km dari kota Banda Aceh, mampu menyimpan endapan tsunami 2004 dan endapan tsunami sampai dengan 7400 tahun lalu.

Ketika endapan tsunami mengendap di dalam gua, maka endapan tsunami akan terjaga dengan baik. Hal ini dikarenakan, endapan tsunami dalam gua terlindungin dari angin dan hujan.

Selain itu, Kelelawar yang bergantung di dinding gua juga membantu menutupi endapan tsunami dengan kotoranya. Kotoran Kelelawar yang jatuh ikut menjaga endapan tsunami yang terjadi di masa lalu.

Hal lain yang ikut membantu menjaga endapan tsunami adalah, adanya bagian gua yang jatuh sehingga bagian yang jatuh tersebut ikut melindungin endapan tsunami masa lalu.

Gambar di samping menjelaskan bagaimana endapan tsunami mengendap di dalam gua pinggir pantai, kotoran Kelelawar ikut menutupi endapan tsunami dan jatuhan atap gua yang tertimbun di lantai gua juga ikut melindungin endapan tsunami dari terpaan badai pinggir laut.

 

Bagaimana Mereka Menemukan Endapan

Gua yang terdapan di Lhoong bukanlah gua yang susah ditemukan. Setelah tsunami 2004, gua tersebut sangat jelas terlihat dari pinggi jalan lama.

Namun pada waktu itu, sedikit orang yang berpikir untuk mencari endapan tsunami purba di dalam gua, sampai akhirnya Tim peneliti dari EOS (earth observation of Singapore) dan peneliti dari Universitas Syiah Kuala datang.

Untuk menemukan endapan tsunami purba, mereka mengali dengan cara membuat parit (trench) sebanyak 5 buah yang menjebar di dalam gua.

Lokasi mereka membuat parit dapat dilihat pada gambar d di bawah ini. T1, T2, T4, T5, dan T6 menunjukkan lokasi penggalian di dalam gua yang mereka lakukan.

tsunami dalam gua

Lokasi Gua Lhoong dan posisi parit yang dibuat penelitian di dalam gua yang ditandai dengan tanda T1, T2, T4, T5, dan T6 (Sumber: Rubin, et al., 2017)

Setelah mereka melakukan penggalian mereka menemukan endapan gua yang sangat menarik. Mereka menemukan endapan pasir tsunami 2004, kemudian lapisan kotoran kelelawar, lapisan tsunami sebelumnya, lapisan kotoran kelelawar dan seterusnya seperti itu sampai ke bawah.

lapisan tsunami di gua

Contoh hasil galian yang mereka temukan di parit nomor 6 (T6). Dari gambar dapat dilihat lapisan tsunami 2004 paling atas, kotoran kelelawar dan lapisan pasir tsunami sebelumnya (Sumber: Rubin, et al., 2017)

Berapa Kali Tsunami Melanda Aceh Sejak 7400 tahun lalu?

tsunami aceh di gua

Lapisan tsunami purba yang ditemukan parit 1 (T1). Gambar bawah menunjukkan urutan lapisan tsunami masa lalu dan tsunami 2004. Gambar atas merupakan photomosaic dari lapisan bawah dan titik pengambilan sampel lapisan (Sumber: Rubin, et al., 2017)

Pada parit 6, mereka cuma bisa melihat beberapa tsunami masa lalu, namun pada parit 1 (T1) mereka menemukan lapisan tsunami purba yang jelas yang menunjukkan berapa kali tsunami sudah melanda aceh.

Pada gambar di samping dapat dilihat, hasil galian yang mereka lalukan pada parit 1 (T1).

Gambar bawah menunjukkan sudah 11 kali tsunami melanda Aceh sebelum tsunami 2004.

Hal ini ditandai dengan dtemukannya lapisan pasir yang berselingan dengan lapisan kotoran kelelawar dari bawah sampai ke atas yang ditandai dengan sand A sampai sand K.

Pada gambar atas, mereka membuatkan photomosaic untuk memudahkan kita dalam melihat perlapisan tersebut.

Pada photomosaic mereka juga memberikan informasi tentang posisi pengambilan sampel lapisan sedimen gua yang ditunjukkan dengan tanda titik Merah.

Kapan Saja Tsunami Terjadi?

Untuk bisa menjawab kapan saja tsunami terjadi, para peneliti dari EOS-Singapura dan Universitas Syiah Kuala-Indonesia, mengambil sampel pada masing-masing lapisan untuk dilakukan dating carbon (14C) .

Sampel yang mereka ambil antara lain, fosil kayu, fosil siput dan fosil kerang yang ada di lapisan tersebut.

Apabila mereka tahu pada tahun berapa sampel tersebut hidup maka mereka akan mengetahui kapan gempa dan tsunami terjadi.

  • Lapisan Sand A merupakan tsunami sekitar 7,672–7,588 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu.
  • Lapisan B-E tidak diketahui kejadinnya karena tidak sampel yang bisa diambil.
  • Lapisan Sand F merupakan tsunami sekitar 5,583–5,331 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu dan 5,258–4,552 berdasarkan umur fosil siput.
  • Lapisan Sand G merupakan tsunami sekitar 3,362–3,246 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu.
  • Lapisan Sand H merupakan tsunami sekitar 3,363–3,245 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu.
  • Lapisan Sand I merupakan tsunami sekitar 3,366–3,221 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu.
  • Lapisan Sand J merupakan tsunami sekitar 3,464–3,068 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu.
  • Lapisan Sand K merupakan tsunami sekitar 2,975–2,772 tahun lalu berdasarkan umur fosil kayu.

Beberapa kejadian tsunami terjadi tidak hanya melanda provinsi Aceh namun juga melanda negara di sekitar samudra india.

Di bagian selatan Sri Lanka, peneliti lain Jackson dkk menumukan tujuh (7) kejadian tsunami sejak 6.700 sampai dengan 2.400 tahun yang lalu.

Kejadian tsunami di Sri Langka diyakini sama juga dengan kejadian tsunami di Aceh namun di Sri Langka tidak ditemukan lapisan tsunami tipis (Sand G–J).

Semoga informasi kejadian tsunami Aceh 7400 tahun lalu ini menambah ilmu pengetahuan bagi kita dan menyadarkan kita bahwa bencana alam tsunami 2004 bukanlah yang pertama.

Banyak kejadian-kejadian tsunami masa lalu yang melanda Aceh dan waktu kejadiannya acak dan tidak teratur. Ada tsunami yang terjadi setiap 1000 tahun dan ada juga tsunami yang terjadi kurang dari 100 tahun sekali.

Semoga kita dan anak cucu kita selalu siaga menghadapi bencana Tsunami.

Salam Siaga,

Ibnu Rusydy

 

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.