Cuaca Panas, Ayo Monitor Kebakaran Hutan Dgn Satelit

Memasuki musim kemarau yang disertai cuaca panas, biasanya akan banyak sekali kejadian bencana kebakaran hutan. Mengetahui posisi kejadian kebakaran hutan tentu akan mempercepat proses penanggulangan oleh pihak terkait. Seiring dengan perkembangan teknologi penginderaan jauh (Remote Sensing), maka manfaat penginderaan jauh juga semakin dapat dirasakan. Salah satu pemanfaatan teknologi penginderaan jauh yang dapat dirasakan oleh masyarakat dalam upaya mitigasi bencana adalah yang terkait dengan pemantauan lokasi kebakaran hutan yang ada di Indonesia khususnya pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

Satelit Pemantau Kebakaran Hutan

Semenjak dikembangkannya satelit pemantau cuaca oleh NASA (National Aeronautics and Space Administration),  satelit NOAA (National Oceanic Atmospheric Administration), ataupun Jepang dengan satelit MTSAT (Multifunctional Transport Satellites), pemantau cuaca menjadi semakin mudah. Saat ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memanfaatkan satelit MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) untuk memonitor fenomena cuaca di seluruh cuaca termasuk di dalamnya peta titik-titik api kebakaran hutan. NASA menjelaskan bahwa sensor Modis  merupakan sensor yang dapat menyediakan data darat, laut, dan atmosfer secara berkesinambungan. Sensor MODIS terpasang pada satelit TERRA dan AQUA. Satelit TERRA dan AQUA memiliki orbit selaras matahari (sun synchronous) dan dekat kutub (near-polar). Satelit mengorbit bumi 2 hari sekali dengan ketinggian 705 kilometer di atas permukaan bumi.

Sistem Sensor MODIS untuk mengambil gambar lokasi titik api (http://mcst.gsfc.nasa.gov/calibration/information)

Sistem Sensor MODIS untuk mengambil gambar lokasi titik api (http://mcst.gsfc.nasa.gov/calibration/information)

LAPAN  juga menjelaskan bahwa citra yang dihasilkan oleh sensor MODIS tersebut memiliki 3 resolusi spasial, yaitu 250 meter, 500 meter, dan 1000 meter. Sensor MODIS yang terpasang pada satelit TERRA dan AQUA dapat mengukur hampir semua parameter darat, laut, dan udara, sehingga kegunaannya menjadi sangat luas. Mulai dari indeks tumbuhan, kelembaban tanah, kadar aerosol di udara, suhu permukaan laut, kandungan klorofil laut, dan lain-lain.

Peta Sebaran Titik Api atau Kebakaran Hutan

Menggunakan fasilitas satelit seperti yang sudah dijelaskan di atas, kita sebenarnya bisa memonitor dimana sedang terjadi kebakaran hutan yang ditandai dengan titik api. BMKG melalui Sub Bidang Pengelolaan Citra Satelit, sudah menyedia citra satelit secara langsung (live) dan bisa diakses oleh publik secara gratis. Website Melek Bencana yang saya kelola ini juga menyediakan satu halaman khusus untuk melihat citra satelit cuaca BMKG secara langsung. Halaman tersebut bisa diakses di link ini http://www.ibnurusydy.com/bmkg/. Lokasi kebakaran hutan yang ditandai dengan titik api juga bisa dilihat pada link tersebut namun untuk memudahkan pembaca, peta titik api yang anda dilihat di bawah ini adalah kondisi titik api saat ini. Peta titik-titik tersebut akan ter-update 2 kali sehari setiap pukul 05:00 wib dan 16:00 Wib.

Semoga informasi tentang cara monitor kebakaran hutan dengan satelit ini bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang Bencana Alam

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.