IAGI-Aceh: Waspadai Bencana Longsor

18 Flares Twitter 4 Facebook 13 Google+ 1 LinkedIn 0 Pin It Share 0 Email -- Reddit 0 StumbleUpon 0 18 Flares ×

Pada tulisan sebelumnya saya pernah menulis tentang Gerakan Tanah di Desa Badak Uken Kecamatan Dabun Gelang Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh dan kesiapan Pemda Kabupaten Gayo Lues menghadapi bencana tanah longsor. Kesiapan ini ditandai dengan akan dimilikinya Peta Bahaya Tanah Longsor Kab. Gayo Lues sampai dengan analisa Peta Risiko Tanah Longsor Kab. Gayo Lues oleh BPDB Kab. Gayo Lues.

Dalam upaya memperkenalkan bencana tanah longsor kepada masyarakat, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Komisaris Wilayah Aceh Ir. Faizal Adriansyah, M.Si  menulis sebuah Opini di koran lokal (Serambi Indonesia) yang dipublikasi pada tanggal 12 Desember 2012. Dalam upaya menyebarkan apa yang beliau tulis kepada pembaca Blog Melek Bencana, maka saya memubliskasikan kembali tulisan beliau sebagaimana aslinya tanpa ada perubahan sedikit pun. Berikut tulisan Pak Faizal Adriansyah di Opini Serambi Indonesia tanggal 12 Desember 2012 tentang Waspadai Bencana Longsor:

INDONESIA menjadi daerah rawan bencana alam geologi seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunungapi dan gerakan tanah/longsor karena disebabkan oleh posisi tektonik wilayah Indonesia yang sangat rumit karena dijepit oleh tiga lempeng bumi besar dan aktif bergerak dengan kecepatan 1-13 Cm/tahun, yaitu lempeng Samudera Hindia Australia yang bergerak ke Utara, lempeng Pasifik yang bergerak ke Barat dan lempeng Asia Tenggara yang bergerak ke Selatan.

Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia, untuk itu manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Ternyata untuk bebas dari bencana bagi kita yang hidup dengan “takdir” di wilayah tumbukan tiga lempeng besar dunia adalah hal yang hampir tidak mungkin. Paradigma yang harus kita bangun adalah “hidup bersama bencana” (living with disaster), karena bencana tidak dapat ditiadakan, tetapi dapat dikurangi risikonya dengan cara kita selalu siaga terhadap bencana.  

Mitigasi bencana

Proses kesiagaan terhadap bencana ini sering dikenal dengan istilah mitigasi. Mitigasi itu dapat kita analogkan seperti kita naik pesawat terbang, tidak ada seorang pun yang di dalam pesawat tersebut ingin pesawatnya mengalami musibah. Namun kita semua harus mendengarkan arahan pramugari apabila terjadi keadaan darurat mulai dengan memakai masker oksigen, cara menggunakan pelampung, mengetahui posisi pintu darurat dan tahapan-tahapan penyelamatan lainnya sehingga ketika terjadi bencana kita telah tahu apa yang harus dilakukan.

Bencana alam gerakan tanah atau sering masyarakat menyebutnya tanah longsor menjadi ancaman tersendiri untuk wilayah yang memiliki morfologi berbukitan. Hal inilah yang terjadi pada kampong Badak Uken, Kecamatan Dabun Gelang, Gayo Lues (Bumi Galus Amblas, Serambi, 6/12/2012).

Longsor menjadi bencana alam ketika akibat dari longsor tersebut menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia sebagaimana UU No.24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, Pasal 1 ayat 1 adalah Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Dari aspek geologi, gerakan tanah dibagi 3 jenis: Pertama adalah runtuhan, terjadi pada lereng terjal, runtuhannya dapat berupa batuan atau tanah (rock fall, debris fall); Kedua adalah longsoran, gerakan ini memerlukan bidang gelincir, bila yang longsor campuran tanah dan bebatuan disebut debris slide, dan; Ketiga adalah ambelasan atau subsidence, pada kejadian ini tanah turun dan bangunan di atasnya retak dan akhirnya dapat amblas ke dalam bumi.   Peristiwa yang terjadi di Badak Uken merupakan fenomena alam gerakan tanah yaitu perpindahan batuan, tanah, bahan rombakan,  atau material campuran yang bergerak ke bawah atau keluar lereng. Gejala bahwa suatu wilayah akan terjadi tanah longsor dapat diamati dengan beberapa kenampakan fenomena alam seperti, munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing yang biasanya terjadi setelah hujan, tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan bahkan kadang-kadang munculnya mata air secara tiba-tiba seperti yang dilaporkan pada Bukit Serai kampong Badak Uken muncul mata air empat warna.

Karakteristik geologi

Apa yang terjadi di Gayo Lues seharusnya menjadi perhatian kita semua, karena potensi untuk terjadi gerakan tanah seperti itu bisa saja dapat terjadi di wilayah lain yang memiliki karekteristik geologi yang serupa. Gerakan tanah sendiri dapat dipicu oleh faktor alam atau geologi seperti morfologi lereng yang terjal, kondisi litologi atau batuan penyusun wilayah yang rapuh/kurang kompak dan adanya patahan yang melewati daerah tersebut. Namun ada juga faktor non geologi seperti curah hujan yang tinggi dan perilaku manusia seperti penggundulan hutan dan perubahan tata lahan yang sebelumnya wilayah hijau menjadi pemukiman.

Apa yang seharusnya disiapkan oleh Pemerintah Daerah yang  wilayahnya sebagian besar daerah berbukitan dalam mengatasi bahaya gerakan tanah untuk jangka panjang? Hal ini sangat penting karena jangan sampai pemerintah hanya melakukan antisipasi yang sifatnya “instan” dan sesaat yaitu bila ada bencana saja baru kita sibuk mengatasinya. Pola seperti ini sudah terbukti menjadikan korban dan kerugian akibat bencana terus bertambah, bahkan aset-aset yang vital seperti sekolah, rumah sakit, perkantoran, irigasi, sawah ladang, tidak sedikit setiap tahun mengalami kerusakan bahkan dokumen-dokumen penting yang tidak dapat dinilai dengan uang juga banyak yang musnah.

Sudah saatnya Pemerintah Daerah yang setiap tahun harus berhadapan dengan bencana alam longsor segera memiliki “Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah”. Peta ini dapat menjadi dasar bagi Pimpinan Daerah dalam mengambil kebijakan pembangunan di daerahnya karena peta ini memuat informasi tingkat kerentanan (kepekaan) suatu daerah terhadap gerakan tanah, sehingga dapat diindentifikasi daerah-daerah yang akan menghadapi permasalahan gerakan tanah, dan melakukan upaya pencegahan atau penanggulangannya sedini mungkin.

Kerentanan tanah

Peta Zona Kerentanan Tanah menginformasikan paling tidak 4 kondisi kerentanan tanah di setiap wilayah: Pertama, kerentanan gerakan tanah sangat rendah berisi informasi tentang wilayah yang jarang atau hampir tidak pernah terjadi gerakan tanah; Kedua, kerentanan gerakan tanah rendah pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng namun gerakan tanah berdemensi kecil masih dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur sungai);

Ketiga, kerentanan gerakan tanah menengah di mana zona ini dapat terjadi gerakan tanah, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan, dan; Keempat, kerentanan gerakan tanah tinggi yaitu zona yang sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan tinggi dan erosi kuat.

Dari peta tersebut Pemerintah Daerah dapat merekomendasikan berbagai hal diantaranya mana daerah yang bisa dikembangkan untuk wilayah pemukiman, perkebunan dan budi daya lainnya serta mana daerah yang harus direlokasi.

Tidak ingin ketinggalan informasi bencana alam? Setiap ada artikel baru, langsung dikirim ke email, Daftarkan E-mail anda sekarang juga disini, GRATIS....!!!

Setelah mendaftar, silahkan cek Inbox email anda dan klik link yang kami kirim untuk konfirmasi

Delivered by FeedBurner

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta dan pelajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658).