Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Soputan

Hari ini 3 Februari 2015, Gunung Api Soputan yang terletak di Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, memuntahkan lava pijar. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PBMBG) mencatat bahwa gunung api Soputan ini termasuk dalam gunung api jenis Strata tipe A. Dibandingikan dengan gunung api lain yang terdapat di provinsi Sulawesi Utara, gunung api Soputan termasuk gunung api yang sering “bangun” dan menunjukkan “taringnya”. Karena keganasan gunung api ini, sudah seharusnya kita memahami gunung api tersebut dengan baik. Salah satu pemahaman yang harus kita punya adalah informasi kawasan rawan bencana gunung api Soputan apabila gunung api ini terus menunjukkan ”taringnya’.

Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Soputan

Gunung api Soputan memiliki tiga tingkatan kawasan rawan bencana yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk menyelamatkan diri. Peta kawasan rawan bencana ini dibuat oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Seperti apa peta tersebut, mari kita lihat.

kawasan rawan bencana gunung api soputan

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) gunung api Soputan di Sulawesi Utara (PVMBG, 2011)

Sebagaimana peta di atas, maka kawasan rawan bencana gunung api Soputan dapat di bagi dalam tiga zona kawasan rawan bencana dengan lingkupan daerah terdampak langsung (bahaya primer) dan tidak langsung (bahaya sekunder) sesuai dengan cacatan dari peta tersebut.

  1. Kawasan Rawan Bencana I (Kuning); kawasan ini adalah kawasan yang berpotensi terkena lontara abu vulkanik dan lontara batu pijar serta berdampak aliran lahar sepanjang aliran hujan yang hulunya dari atas gunung api. Untuk kawasan yang berpotensi dilanda lahar dingin antara lain Royongan papang, Londola kalewaha, Royongan Lowian, Royongan Ranowangka, dan Londola Mamaya. Untuk kawasan yang berdampak lontaran atau hujan abu vulkanik dan batu pijar dengan radius dari sumber letusan 9-10 km, hal ini sesuai dengan pengalaman letusan 16 Mei 2000.
  2. Kawasan Rawan Bencana II (Merah Muda); bahaya yang ada pada kawasan rawan bencana II ini dapat berupa aliran lava, aliran lahar, awan panas, aliran piroklastik dan lontaran batu pijar dari hasil erupsi freatik. Apabila ada peningkatan status gunung api, masyarakat atau wisatawan yang berada pada kawasan ini diharuskan mengungsi. Daerah yang berpotensi dilanda aliran lava pada kawasan yang dekat aliran sungai yang berhulu di daerah puncak dan agak sedikit ke arah baratdaya hingga sebelah Utara Silian sejauh 7 km dari pusat erupsi. Sebagian lagi ke arah selatah melalui celah antara punggungan Kuntung Manimporok dengan Dungusan Kalewung hingga ke kawasan kebun kelapa dekat desa Winorangian. Kawasan yang berpontesi terlanda awan panas apabila terjadi letusan yang besar adalah lereng barat mengikuti lembah-lembah hulu sungai yang berasal dari puncak yang diperkirakan berjarak 8 Km. kawasan yang berpotensi jatuhan abu lebat dan lontara batu pijar dalam radius 10 km dari pusat erupsi. Daerah yang terlanda jatuhan abu lebat ini sangat bergantung pada arah angin ketika terjadi erupsi gunung api.
  3. Kawasan Rawan Bencana III (Merah); Ini adalah kawasan terdekat dengan pusat erupsi dan paling parah terdampak aliran lava, guguran lava, awan panas, hujan abu lebat, dan jatuhan bom gunung api. Pemukiman terdepat dengan sumber erupsi adalah kawasan Winorangian yang berjarak 7 km. Pengalaman letusan tahun 1995, aliran lava berdampak sampai jarak 6 km dari pusat erupsi ke arah baratdaya. Untuk awan panas, berdasarkan letusan tahun 2000 hanya melanda lereng sebelah barat sekitar puncak. Lontaran batu pijar dan hujan abu lebat berada pada radius 4 km dari pusat erupsi/letusan.

Semoga informasi tentang kawasan rawan bencana gunung api Soputan ini bermanfaat bagi kita dan masyarakat yang tinggal dekat dengan gunung api tersebut.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.