Mengenal Komponen Peringatan Dini Tsunami Indonesia

jaringan buoy Intews IndonesiaSetelah gempa dan tsunami Aceh tahun 2004, Indonesia dibantu oleh negara lain mulai membangun sebuah sistem peringatan dini tsunami. Sistem peringatan dini ini dikenal dengan nama InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) atau Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia. Sistem ini terintegrasi dengan berbagai macam komponen utama yang dikontrol oleh instansi yang berbeda. Pada kesempatan kali, dan bertempatan juga dengan bulan Desember, bulan dimana tsunami menimpa Aceh 10 tahun yang lalu, saya ingin berbagi artikel tentang kesiapan kita menghadapi tsunami berikutnya melalui sistem peringantan dini tsunami indonesia ini. Apa saja komponen yang terlibat dalam InaTEWS yang dibangun pada November 2008 ini, berikut penjelasan sesuai dengan penjelasan yang ada di websitenya InaTEWS https://inatews.bmkg.go.id/.

Jaringan Seismik Indonesia

jaringan seismometer indonesia

Jaringan Broadband Seismic dan Accelerometer Indonesia (http://inatews.bmkg.go.id)

Ketika gempa bumi terjadi, gelombang gempa bumi tersebut akan direkam oleh seismometer yang terpasang di seluruh indonesia. Menurut BMKG, di seluruh Indonesia saat ini sudah terpasang banyak seismometer yang terdiri dari 160 broadband seismometer, 500 accelerometer. Kesemua seismometer tersebut kemudian dikelompokan ke dalam 10 Regional Center. Dengan jumlah sensor tersebut dan jarak tiap sensor ±100 km, maka dalam 3 menit pertama sumber gempabumi yang terjadi di wilayah Indonesia dapat ditentukan lokasinya.

Bagaimana cara kerja Seismometer, pembaca boleh singgah ke link http://www.ibnurusydy.com/perekaman-gempa-pada-seismomete-3-komponen/

Beberapa detik setelah gempa bumi terjadi data yang terekam akan dikirim melalui VSAT ke Pusat dan akan diproses serta dianalisis oleh seismologist untuk dinyatakan apakah berpotensi tsunami atau tidak. Dukungan data dari Buoys yang dipasang akan memberikan keputusan yang akurat.

Jaringan GPS dan TG Indonesia

stasiun GPS Geodetik

Stasiun GPS Geodetik (http://inatews.bmkg.go.id)

Jaringan GPS Geodetik dan TG (Tide Gauge) yang terpasang di seluruh Indonesia di kontrol dan dipelihara oleh Bakosurtanal. Bakosurtanal berencana memasang 40 sensor GPS Geodetik dan 80 Sensor Tide Gauge namun sampai saat belum sampai target tersebut. GPS Geodetik yang terpasang tersebut akan mampu memantau pergerakan lempengn bumi. Data arah pergerakan dan nilai pergerakan lempeng bumi tersebut sangat perlu untuk memperkirakan kawasan-kawasan yang berpotensi gempa bumi di masa yang akan datang.

Pada link ini http://www.ibnurusydy.com/aplikasi-gps-untuk-mitigasi-gempabumi/ saya sudah pernah menjelaskan bagaiamana GPS Geodetik ini digunakan untuk tujuan mitigasi gempa bumi. Jadi bagi pembaca yang mau tahu lebih lanjut, tinggal klik link tersebut.

 

Untuk TG sendiri digunakan untuk memonitor pasang-surut air laut. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi surutnya air laut setelah gempa bumi terjadi yang menandakan adanya potensi tsunami. Alat GPS dan TD yang terpasang di seluruh Indonesia ini mengirim data secara realtime ke kantor pusat menggunakan jalur komunikasi VSAT IP.

Jaringan Buoys Indonesia

buoy untuk memantau tsunami

Buoy untuk memantau tsunami

Pada akhir tahun 2005, BPPT (Badan P bekerjasama dengan  Geomar German melalui proyek GITEWS telah memasang 2 buah Buoys di samudra Hindia untuk memantau tsunami yang mungkin akan di terjadi di kawasan tersebut di masa yang akan datang. Namun berselang beberapa bulan setelah pemasangan, Buoy tersebut berpindah tempat karena rantai pengikat antara Buoys dengan beban yang diletakkan di dasar laut putus.

Saat ini di seluruh Indonesia, terdapat beberapa Buoy yang dipasang dan dikelola oleh BPPT dari Indonesia, GITEWS German, WaveScan Malaysia, dan DART Buoy punya US yang dikelola oleh oleh NOAA.

Dalam artikel di link ini http://www.ibnurusydy.com/pemantauan-gelombang-tsunami/ saya pernah menjelaskan dengan detail bagaimana Buoy yang dipasang tersebut memantau gelombang tsunami dan apa saja sensor yang dipasang di alat Buoy tersebut.

jaringan buoy Intews Indonesia

Jaringan Buoy Yang Dipasang di Seluruh Indonesia

Sistem Komunikasi

sistem komunikasi InaTEWS

Sistem Komunikasi yang digunakan untuk mendukung pengiriman data dari sensor ke kantor pusat (http://inatews.bmkg.go.id)

Semua peralatan yang dipasang di darat dan di laut sebagai yang dijelaskan di atas harus mengirimkan data ke kantor pusat melalui sebuah sistem komunikasi yang handal. Sistem komunikasi InaTEWS ini menggunakan sistem komunikasi satelit dengan sistem VSAT. Untuk data seismik sistem komunikasi menggunakan 3 tipe VSAT, yaitu: System LIBRA, System Reftec, dan System Provider. Beberapa stasiun tide gauges dan GPS akan menggunakan komunikasi VSAT juga, tetapi untuk buoys akan digunakan komunikasi berbasis satelit dengan tipe yang lain.

Sistem Terkait Peringatan Dini Tsunami

Dalam sistem InaTEWS tersebut, ada 3 sistem yang utama yang diperlukan agar sistem peringatan dini Indonesia ini berjalan sesuai dengan standar peringatan dini tsunami. Yang pertama adalah sistem pemantauan darat dan laut yang terdiri dari seismograph, GPS (global Positioning System), accelerometer, Buoy, Tide Gauge, dan CCTV. Yang kedua adalah sistem pengolahan data untuk data kegempaan bisa dilakukan di 10 kantor regional dan 1 kantor Nasional dan  kantor untuk pengolahan data Tide Gauge, GPS, dan Buoys masing-masingnya 1 kantor Nasional. Sistem yang ketiga ada sistem komunikasi yang melibatkan pengumpulan data dan penyebaran informasi kepada masyarakat umum. ilustrasi Sistem-sistem terkait peringantan dini tsunami ini dapat dilihat pada gambar di bawah kanan.

alur data InaTEWS

Alur Data InaTEWS (Sumber: http://inatews.bmkg.go.id)

Pada gambar jelas terlihat bahwa di darat dan laut telah dipasang beberapa sensor yang berfungsi untuk mengumpul data gempa bumi, mengamati pergerakan lempeng, dan sensor pengamatan tsunami. Kesemua sensor tersebut dikelola oleh instansi-instansi teknik yang berkompeten di bidangnya. Tahap selanjutnya adalah penyebaran informasi tersebut kepada masyarakat yang juga melibatkan instansi pemerintah dan pihak swasta.

Semua kompoten peringatan ini sudah sangat bagus, artinya secara struktural kita sudah sangat siap. Bagaimana dengan kesiapan non-struktural yang melibatkan masyarakat langsung? akan kah masyarakat kita sudah bijak dalam merespon setiap peringatan? atau malah panik?. Saya yakin pertanyaan ini akan terjawab sendiri dengan program-program penguatan kapasitas masyarakat dan pegawai pemerintah dalam hal pengurangan resiko bencana.

Semoga artikel tentang Mengenal Komponen Peringatan Dini Tsunami Indonesia ini bermanfaat dan menambah pemahaman ilmu bencana alam bagi kita.

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.