Mengenal Lebih Dekat Gunung Api Slamet

sejarah gunung slamet

Gunung Api Slamet Tahun 1940 (koleksi Leo Haks, Amsterdam) diambil dari makalah Karakteristik Erupsi Gunung Slamet, Jawa Tengah

Gunung Api Slamet yang memiliki ketinggian 3432 meter dari permukaan laut merupakan salah satu gunung api aktif tipe A (pernah meletus sejak tahun 1600). Gunung ini terletak pada posisi 7o14’30″ LS dan 109o12’30″ BT, dengan wilayah administrasi masuk ke dalam lima wilayah yaitu Kabupaten Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas dan Purbalingga. Pada tanggal 30 April 2014 kemaren, pemerintah kita menaikan status gunung api Slamet dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III). Dinaikkannya status ini akibat peningkatan aktivitas vulkanik gunung api tersebut. Pada level Siaga ini, pemerintah dan dinas terkait sudah bisa mempersiapkan kawasan pengungsian apabila nantinya gunung api ini levelnya naik menjadi awas (level IV) dan meletus.

Letusan gunung api Slamet sangat tidak kita harapkan namun kita bisa belajar dari sejarah letusan gunung api ini. Apabila kita melihat sejarah letusan gunung api Slamet, ternyata gunung api memiliki beberapa ciri khas tersendiri ketika meletus. Sebelum kita melihat karekter letusannya, pertama sekali mari kita lihat karakteristik gunung ini secara geologi.

Karakteristik Geologi Gunung Api Slamet

Pada tahun 2012, LIPI mengeluarkan sebuah buku tentang Ekologi Gunung Slamet. Dalam buku tersebut ada sebuah makalah yang menurut saya cukup menarik tentang “Karakteristik Erupsi Gunung Slamet, Jawa Tengah” yang ditulis oleh Pak Indyo Pratomo yang berasal dari Museum Geologi – PSG, Badan Geologi dan Pak Mohamad Hendrasto dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi – Badan Geologi.

Dalam makalah tersebut mereka mencatat bahwa Gunung api Slamet letusannya mulai tercatat dalam sejarah sejak tahun 1772. Berdasarkan karakteristik bentang alamnya, tubuh vulkanik Gunung api Slamet terdiri atas Gunung api Slamet Tua, Gunung api Slamet Muda yang terletak di sebelah timurnya dan Gunung api Slamet Menengah. Kelompok endapan vulkanik produk erupsi Gunung api Slamet Tua terdiri atas leleran lava andesit dan endapan piroklastik yang telah mengalamiubahan hidrotermal, dan kelompok endapan Gunung api Slamet Muda, yang terdiri atas leleran lava basaltik dan piroklastik jatuhan yang tidak terubah. Kelompok Slamet Tua diwakili oleh lava Mingkrik, lelerannya tersingkap terbatas di bagian barat kawah G. Slamet, satuan batuan ini adalah pembentukan tubuh Slamet Tua (Gunung Cowet), ditindih oleh produk Slamet Muda yang diwakili oleh leleran lava andesit piroksin.

Apabila pembaca ingin membaca Kondisi geologi Gunung Sinabung, klik link ini http://www.ibnurusydy.com/seperti-apa-kondisi-geologi-gunung-api-sinabung/

Sejarah Letusan Gunung Api Slamet

Berdasarkan catatan sejarah letusannnya, Gunung api Slamet yang bertipe A ini sudah meletus sebanyak 25 kali lebih sejak tahun 1772. Berikut ini beberapa kejadian letusan Gunung Api Slamet pada masa lalu yang dicatat oleh (Kusumadinata 1979; Abdurachman dkk. 2007);

  1. 11-12 Agustus 1771: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  2. Oktober 1825: Letusan abu
  3. September 1935: Letusan abu
  4. 1 Desember 1849: Letusan abu
  5. 19 Maret dan 11 April 1860: Letusan abu
  6. Mei, Juni, Nov., Desember 1875: Letusan abu
  7. 21-30 Maret 1885:  Letusan abu
  8. 14 Juli-9 Agustus1904: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  9. Juni 1923: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  10. November 1926: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  11. 27 Februari  1927: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  12. 20-29 Maret dan 8-12 Mei 1928: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  13. 6,7 dan 15 Juni 1929:  Letusan abu dan leleran/kubah lava
  14.  2-13 April 1930:  Letusan abu dan leleran/kubah lava
  15.  1 Juli dan 20 September 1932: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  16. 18 Maret,April, 6 Mei, 15 Juli, 4 Desember 1939: Letusan abu
  17. 15-20 Maret dan 15 April 1940: Letusan abu
  18. Juli, Agustus, Oktober 1953:  Letusan abu dan leleran/kubah lava
  19.  12-13 November, 6-16 Desember 1955: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  20.  8 Februari 1957 8 Februari: Letusan abu
  21. 17 April, 4-6 Mei, 13 Oktober, Desember 1958: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  22. Desember 1960:  Letusan abu
  23. Januari 1961:  Letusan abu
  24. 1966: Letusan abu
  25.  Juni, Juli, Agustus 1969: Letusan abu
  26. Agustus 1973:  Letusan abu dan leleran/kubah lava
  27.  12-13 Juli 1988: Letusan abu dan leleran/kubah lava
  28.  23 April – 6 Mei 2009: Letusan abu dan lontaran lava pijar (tipe Stromboli)

Karakteristik Letusan Gunung Api Slamet

letusan gunung api slamet

Letusan Gunung Api Slamet tahun 2009 tipe Stromboli (Sumber Photo: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) diambil dari makalah Karakteristik Erupsi Gunung Slamet, Jawa Tengah.

Berdasarkan sejarah kejadian letusan gunung api Slamet sejak 1772, Pak Indyo Pratomo dan Pak Mohamad Hendrasto berkesimpulan bahwa karakteristik letusan gunung api Slamet cenderung bersifat ekplosif lemah dan juga efusif berupa lelehan lava yang disertai letusan abu dan scoria (tipe Stromboli) yang disertai lemparan abtu pijar. Letusan abu vulkanik akibat letusan gunung api Slamet ini akan mengikuti kemana arah angin. Abu vulkanik yang terbawa oleh angin akan sangat menganggu pernapasan penduduk yang masuk dalam kawasan rawan bencana bahaya debu vulkanik.

Potensi ancaman atau bahaya gunung api Slamat apabila meletus adalah lontaran meterial letusan, hujan abu lebat, lelehan dan kubah lava, dan banjir lahar.

Dari potensi ancama tersebut, yang harus diwaspadai saat terjadi letusan adalah lontaran material pijar dan hujan abu lebat. Menurut peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Slamet. Lontaran material pijar berpotensi terjadi pada radius 3 km dari pusat letusan. Potensi ancaman setelah letusan yang juga sangat merusak harus diwaspadai adalah banjir lahar dingin yang terjadi setelah turunnya hujan.

Semoga artikel tentang Gunung Api Slamet ini bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang Bencana Alam

 

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.