Mengenal Lebih Dekat Peta Risiko Bencana Aceh

Oleh: Eldina Fatimah dan Fauziah

Dalam konteks kekinian, Pengurangan Risko Bencana dimaknai sebagai sebuah proses pemberdayaan komunitas melalui pengalaman mengatasi dan menghadapi bencana yang berfokus pada kegiatan partisipatif untuk melakukan kajian, perencanaan, pengorganisasian kelompok swadaya masyarakat, serta pelibatan dan aksi dari berbagai pemangku kepentingan, dalam menanggulangi bencana sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Tujuannya agar komunitas mampu mengelola risiko, mengurangi, maupun memulihkan diri dari dampak bencana tanpa ketergantungan dari pihak luar.

peta risiko bencana

ADRM yang terdiri dari ATLAS, AGENDA dan ATURAN MAIN

Salah satu implementasi dari hal diatas adalah sebuah inisiasi tentang penyusunan Peta Risiko Bencana Aceh (PRBA), yang dilakukan oleb beberapa lembaga terkait di Indonesia, termasuk Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah.

Inisiasi Penyusunan Peta Risiko Bencana Aceh sudah dilakukan sejak bulan Juli 2010 dengan mengundang pakar dari berbagai institusi untuk mendapatkan masukan tentang perkembangan metodologi penilaian risiko bencana di Indonesia, melalui beberapa workshop. Dari hasil workshop tersebut ternyata belum diperoleh acuan-metodologi penilaian risiko bencana yang baku di level nasional.

Mengingat TDMRC-UNSYIAH sebagai pusat riset bencana satu-satunya yang ada di Aceh, dan kebutuhan yang sangat mendesak tentang penilaian risiko bencana yang berbasis spasial, maka pemerintah Aceh meminta TDMRC-UNSYIAH untuk membantu melakukan kajian tentang penilaian terhadap risiko bencana di Aceh.

Kajian ini kemudian diimplementasikan ke dalam bentuk Peta Risiko Bencana Provinsi Aceh yang dinamakan ADRM (Aceh Disaster Risk Map). Hingga kini, level analisis yang dilakukan adalah untuk tingkat provinsi, sementara untuk tingkat Kabupaten/Kota akan dilakukan setelah penyusunan tingkat provinsi selesai.

Apakah ADRM itu?

ADRM adalah sebuah dokumen yang terdiri atas 3 bagian utama yang disebut dengan ATLAS, AGENDA, dan ATURAN MAIN. ATLAS adalah dokumen yang dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu ATLAS A tentang profil Aceh yang terkait dengan tata ruang, sarana dan prasarana, kelembagaan, dan sosial ekonomi; ATLAS B menjelaskan tentang jenis-jenis bencana yang ada di Aceh; ATLAS C adalah dokumen yang mengandung informasi tentang analisis risiko bencana Aceh secara spasial.

AGENDA berisi informasi tentang daerah-daerah mana saja di setiap Kabupaten/Kota yang berisiko terhadap bencana dan usulan rekomendasi tentang program-program yang sesuai untuk mengurangi risiko bencana di Aceh. Sementara ATURAN MAIN berisikan mekanisme perencanaan, mekanisme pelaksanaan dan mekanisme pemantauan serta evaluasi penanggulangan bencana daerah.

Lebih dalam lagi, dalam proses penyusunan ADRM sangat diperlukan partisipasi pemerintah daerah, masyarakat, dan swasta, sehingga untuk menguatkan peran serta semua elemen tersebut perlu ditetapkan dalam sebuah Surat Keputusan Gubernur. Berkat dukungan dari Pemerintah Daerah, maka surat ketetapan tersebut telah dikeluarkan pada tanggal 29 September 2010. Daerah, maka surat ketetapan tersebut telah dikeluarkan pada tanggal 29 September 2010.

Dalam SK Gubernur Aceh No. 360/589/210 telah ditetapkan siapa yang menjadi Tim Pembina, Tim Pengarah, Tim Penyusun, dan Tim Kerja-Multi-Stakeholder yang terlibat secara menyeluruh untuk menyusun dokumen ADRM. Dalam hal ini, TDMRC-UNSYIAH merupakan bagian dari Tim Penyusun dengan dibantu oleh Konsultan Triple-A SwissContact.

Data dan informasi yang dimiliki oleh pemerintah daerah, organisasi swasta, dan masyarakat dikumpulkan dan dikompilasi oleh Tim Penyusun untuk digunakan dalam penyusunan ADRM ini.

Pertemuan antara berbagai pihak terkait diakomodasi dalam bentuk Workshop Pendahuluan, yang dilakukan tanggal 28 September 2010, kemudian kegiatan diskusi kelompok (FGD) oleh masing-masing tim kerja-multistakeholder yang sudah ditunjuk untuk menyempurnakan dokumen ATLAS, AGENDA, dan ATURAN MAIN yang sudah disusun. Diskusi kelompok sudah dilakukan sebanyak dua kali yaitu tanggal 5 Oktober 2010 dan 8 Desember 2010.

Dalam diskusi tersebut, masukan, koreksi, dan updating kelengkapan data telah dilakukan. Kerjasama dan keterbukaan antara Tim Kerja multistakeholder sangat positif untuk mendukung penyempurnaan dokumen ADRM yang disusun.

Disisi lain, Tim Penyusun telah melakukan audiensi dan diskusi dengan Badan Koordinasi Penataan Ruang Aceh (BKPRA) sebanyak 3 (tiga) kali. Sehingga Peta Risiko Bencana Aceh yang sudah disusun oleh Tim Penyusun dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan secara langsung oleh Pemerintah Aceh dalam penyusunan RTRW. Dokumen ini merupakan dokumen umum yang bermanfaat banyak untuk kemaslahatan masyarakat Aceh.

Dari data yang diperoleh, terdapat 12 (dua belas) jenis bencana yang paling berdampak di Prov. Aceh sejak tahun 1998 – 2010, yaitu : (1) banjir, (2) angin topan, (3) gelombang pasang dan abrasi, (4) tanah longsor, (5) kekeringan, (6) gempa bumi, (7) konflik, (8) gempa bumi dan tsunami, (9) epidemi, (10) banjir dan tanah longsor, (11) kebakaran hutan dan lahan, dan (12) letusan gunung berapi.

Dari hasil analisis multi-risiko diperoleh 10 Kabupaten/Kota yang paling berisiko terhadap bencana alam, yaitu: (1) Kota Banda Aceh, (2) Kota Langsa, (3) Kota Lhokseumawe, (4) Kab. Pidie Jaya, (5) Kota Sabang, (6) Kab. Simeulue, (7) Kab. Pidie, (8) Kab. Aceh Selatan, (9) Kab. Bireun, (10) Kab. Aceh Utara. ( HSP/ NN).

Tags:
author

Author: