Mengenal Peta Zonasi Gempa Bumi Indonesia

Peta gempa zonasi gempa bumi Indonesia 2010 bukanlah peta zonasi gempa bumi pertama untuk Indonesia. Sebelumnya kita memiliki peta zonasi gempa bumi 2002, namun karena dirasa kurang sempurna maka dibuatkanlah peta zonasi gempa bumi Indonesia 2010. Peta zonasi Gempa Indonesia 2010 disusun oleh beberap orang ahli yang dikoordinir oleh Kementrian Pekerjaan Umum (PU). Tim yang terlibat dalam pembuatan  peta zonasi gempa Indonesia ini, dulu pernah dikenal dengan Tim 9 walaupun jumlah tenaga ahlinya melebihi 9.

Tim Ahli Revisi Gempa Indonesia

Tim revisi peta zonasi gempa Indonesia 2010 dipimpin oleh Prof. Ir. Masyhur Irsyam, MSE., PhD dari Teknik Sipil ITB dibantu oleh wakil ketua Ir. I Wayan Sengara, MSCE., PhD yang juga dari Teknik Sipil ITB dan Fahmi Aldiamar, ST., MT dari Litbang Jalan PU sebagai Sekretaris. Tenaga ahli lain yang terlibat sebagai anggota antara lain; Prof. Sri Widiyantoro, MSc., PhD pakar Geofisika ITB bidang Tomografi Bumi, Wahyu Triyoso, MSc., PhD. pakar Geofisika ITB, Danny Hilman Natawidjaja, PhD. pakar Geologi dan gempa bumi LIPI, Ir. Engkon Kertapati dari Pusat Penelitian Geologi, Dr. Irwan Meilano, MSc. pakar deformasi kerak bumi dari Geodesi ITB, Drs. Suhardjono dari BMKG-Geofisika, Ir. M. Asrurifak, MT. dari Teknik Sipil ITB, dan Ir. M. Ridwan, Dipl. E. Eng dari Litbang Permukiman PU. Ke semua tenaga ahli tersebut adalah putra terbaik bangsa ini, mereka adalah orang yang betul-betul ahli di bidangnya. Hasil kerja keras mereka akhirnya terbentuknya peta zonasi gempa bumi Indonesia 2010. Metode apa yang mereka gunakan untuk memetakan zonasi gempa Indonesia 2010?

Metode Pemetaan Zonasi Gempa Indonesia

Peta zonasi gempa Indonesia 2014 adalah peta model perkiraan goncangan tanah puncak di batuan dasar atau dikenal dengan istilah PGA (Peak Ground Acceleration) dalam satuan Gal. Mengapa peta tersebut bukan gempa prediksi gempa bumi? ya karena gempa bumi sampai saat ini belum bisa diprediksi… kalau gak percaya coba baca artikel di link ini http://www.ibnurusydy.com/dapatkah-gempa-diprediksi/.

Peta Gempa metode DSHA

Peta Zonasi Gempa Menggunakan Metode DSHA (Sumber: Natawidjaja et al, 2007)

Nilai goncangan tanah merupakan parameter yang bisa dan mudah dimodelkan serta bisa diangkakan atau dihitung. Mengapa mudah? ya karena nilai goncangan tanah akibat suatu gempa akan berbanding lurus dengan nilai magnitudo gempa bumi dan berbanding terbalik terhadap jarak. Artinya, apabila gempa bumi yang timbul besar maka goncangannya tanahnya juga akan besar namun makin jauh sumber gempa bumi tersebut maka goncangan yang dirasakan akan semakin kecil. Faktor berkurangnya goncangan tanah terhadap jarak nantinya akan diselesaikan dengan persamaan atenuasi. Persamaan atenuasi apa yang digunakan, tergantung kondisi geologi setempat. Selain bisa dikuantifikasi, goncangan tanah juga yang menyebabkan runtuhnya bangunan sehingga timbulnya korban jiwa.

Untuk menganalisan peta zonasi gempa bumi (seismic hazard) digunakan 2 (dua) metode umum yaitu, metode DSHA (Deterministic Seismic Hazard Analysis) dan PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis). Kalau metode DSHA, menggunakan satu sumber gempa bumi (patahan/sesar) yang kemudian skenariokan dengan nilai magnitudo gempa bumi tertentu untuk dianalisa proses penjalaran gelombang gempa bumi dan besar goncangan tanah yang ditimbulkan oleh gempa tersebut pada suatu kawasan. Contoh hasil peta gempa menggunakan metode DSHA dapat dilihat pada gambar di atas yang dibuat oleh Pak Danny Hilman Natawidjaja. Nah, bagaimana dengan metode PSHA? metode PSHA menjadi penyempurnaan dari metode DSHA, kalau tadi di metode DSHA yang skenariokan satu sumber, maka pada metode PSHA diskenariokan sumber yang banyak berdasarkan data katalog gempa yang sudah ada sejak beberapa puluh tahun ke belakang. Dalam metode PSHA juga memperkirakan unsur ketidakpastian seperti frekuensi kejadian gempa bumi, lokasi dan magnitudo gempa. Dalam metode PSHA juga dipertimbangkan kondisi probabilitas terburuk yang mungkin terjadi.

Untuk membaca lebih detail tentang metode dan cara pembuatan peta Zonasi Gempa Indonesia 2010, silahkan donwload Ringkasan Hasil Studi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 (Download)

Peta Zonasi Gempa Indonesia 2010

Berdasarkan hasil analisis Tim revisi peta gempa Indonesia 2010, terbentuklah peta-peta gempa bumi berupa peta PGA dan spektra percepatan untuk perioda pendek (0.2 detik) dan perioda 1 detik dengan kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun (gempa 475 tahun) dan 2% dalam 50 tahun (gempa 2475 tahun). Di bawah ini, beberapa peta goncangan tanah puncak seluruh Indonesia, Silahkan klik kanan untuk menyimpan peta tersebut.

Ke-enam peta yang ada di atas adalah percepatan goncangan tanah puncak atau tertinggi menggunakan metode PSHA total. Satu hal yang harus diingat bawah percepatan di peta tersebut adalah percepatan batuan dasar. Kondisi tanah lunak yang lunak dan keras akan memberikan efek yang berbeda terhadap goncangan yang dirasakan oleh. Untuk mendapatkan nilai percepatan goncangan puncak di permukaan diperlukan pengukuran di atas permukaan secara mendetail yang dinamakan pemetaan Mikrozonasi. Pada tulisan yang ada di link ini http://www.ibnurusydy.com/peran-geofisika-fisika-bumi-dalam-mitigasi-dan-monitoring-bencana-ii/ saya menjelaskan. Silahkan klik link untuk membaca artikel tersebut. Pada artikel lain di link ini http://www.ibnurusydy.com/perencanaan-berbasis-mitigasi-bencana-alam/ penulis juga menjelaskan tentang pengalaman penulis melakukan survey seismik MASW untuk keperluan mikrozonas.

Setelah selesainya Peta Zonasi Gempa Indonesia 2010 tersebut, pada tahun 2012 lalu, pemerintah kita mengeluarkan SNI 1726-2012 tentang Tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Terhadap Struktur Bangunan Gedung dan Non-Gedung. Mudah-mudahan pada kesempatan lain, penulis punya waktu untuk membahas SNI tersebut.

Semoga artikel tentang Peta Zonasi Gempa Bumi Indonesia 2010 ini bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang Bencana Alam

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.