Mengenal Skala Magnitudo Gempa Bumi

seismogramSetiap kali gempa bumi bumi terjadi, hal yang pertama sekali ditanyakan adalah berapa skala gempa tersebut. Skala kekuatan gempa atau skala magnitudo gempa merupakan sebuah ukuran logaritmik kekuatan gempa bumi atau ledakan bom berdasarkan pengukuran amplitudo maksimum gelombang gempa bumi. Amplitudo tersebut tentu saja berdasarkan hasil rekaman peralatan perekam gelombang gempa bumi. Nilai skala gempa bersifat logaritmik, ini berarti bahwa Skala gempa 6 = 10 x skala gempa 5, skala gempa 5 = 10 x skala gempa 4, dsb. Saat ini, terdapat beberapa skala magnitudo gempa yang digunakan di dunia. Masing-masing magnitudo merekam gelombang gempa yang berbeda-beda sehingga pembaca jangan heran apabila ketika gempa terjadi, skala magnitudo yang dikeluarkan BMKG, USGS dan beberapa lembaga lain berbeda. Kalau gak percaya, sialahkan baca artikel tentang Informasi Gempa BMKG dgn USGS, Berbeda?.

Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang skala gempa bumi, berikut beberapa magnitudo yang digunakan oleh seismologi dalam mengamati gempa bumi yang ada di seluruh dunia.

  1. Magnitudo Lokal (ML); Ini merupakan skala magnitudo yang pertama sekali dikembang oleh Charles Richter pada tahun 1935. Ide dasar beliau mengembangkan skala Magnitudo Lokal ini adalah untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang kerap terjadi di California berdasarkan skala sebuah alat dan bukan berdasarkan skala yang dirasakan oleh manusia. Skala berdasarkan pengukuran alat (instrumen) in sangat bergantung kepada jarak alat terhadap sumber gempa yang dapat dibaca berdasarkan simpangan Amplitudo maksimumnya yang terekam pada seismogram. Data gempa yang terjadi di California ini akan terus dikumpul oleh Pak C. Ricther sehingga menjadi data gempa dalam jangka waktu tertentu yang disebut katalog gempa. Skala Magnitudo yang dikembangkan oleh C. Richter inilah yang saat ini kita kenal sebagai Skala Richter (SR). Skala Richter atau Magnitudo Lokal ini cuma cocok digunakan untuk gempa-gempa lokal saja atau gempa bumi yang berjarak kurang dari 600 Km dan gempa-gempa kecil. Apabila jaraknya sudah melebihi 600 Km dan skala gempanya juga besar, maka skala Richter ini sudah tidak sesuai lagi digunakan. Saat ini, stasiun pengamat gempa yang ada di seluruh dunia sudah sangat jarang menggunakan skala magnitudo ini.
  2. Magnitudo Gelombang Badan (Mb); Magnitudo gelombang badan ini dibuatkan untuk mengatasi kelemahan skala gempa Magnitudo lokal yang sangat terbatas pada jarak (kurang dari 600 Km). Pada gempa-gempa yang jauh, fasa-fasa gelombang badan primer terekam sangat jelas sehingga Magnitudo Mb ini memanfaatkan gelombang badan primer ini. Seperti yang saya jelaskan di atas, babwa fasa gelombang ini sangat bergantung terhadap jarak dan makin jauh dengan sumber maka akan ada efek pelemahan gelombang. Untuk mengatasi efek peluruhan/pelemahan gelombang ini, pada perumusan dasar untuk menghitung magnitudo harus adanya fungsi kalibrasi jarak dan kedalaman gempa sehingga stasiun pengamat gempa yang berjarak 700 Km dengan stasiun pengamatan 900 Km mendapatkan skala yang sama yang satu kejadian gempa yang sama.
  3. Magnitudo Gelombang Permukaan (Ms); Apabila magnitudo Mb memanfaatkan gelombang badan, maka Magnitudo gelombang permukaan atau disingkat Ms menggunakan simpangan/amplitudo gelombang permukaan. Penggunakan skala gempa dengan magnitudo gelombang permukaan ini dikarenakan gempa yang berjarak lebih dari 600 Km dimana pusat gempanya dangkal, maka gelombang gempa yang akan terekam didominasi oleh gelombang permukaan. Nilai perioda gelombang gempa bumi yang digunakan untuk mengukur magnitudo gelombang permukaan adalah perioda 20 detik dari gelombang Rayleigh dari seismometer komponen vertikal.
  4. Magnitudo Momen (Mw); Magnitudo ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1979 oleh Hiroo Kanamori dan Tom Hanks dan paling banyak digunakan saat ini. Magnitudo ini mengukur “seismic moment” atau momen seismik yang menunjukkan seberapa besar energi yang dilepaskan untuk menghasilkan gempa bumi berdasarkan luas rekahan, panjang slip dan sifat rigiditas (kekakuan) batuan. Saat ini, hampir semua stasiun pengamat gempa bumi yang ada di seluruh dunia menggunakan skala ini. Kawan-kawan dari media massa harusnya lebih sering menggunakan skala ini apabila meliput berita gempa bumi dari luar negeri. Untuk memahami lebih detail tentang skala gempa Magnitudo Momen (Mw), berikut ini saya tampilkan video animasi yang dibuat oleh IRIS (Incorporated Research Institutions for Seismology).


Semoga artikel tentang Skala Gempa Bumi ini bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang Bencana Alam

 

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.

2 Responses

  1. author

    hatsura rihan4 years ago

  2. author
    Author

    Ibnu Rusydy4 years ago