Mengukur Kesiapsiagaan Sekolah Menghadapi Bencana

Oleh: Faisal Ilyas

Pendidikan siaga bencana perlu segera dilakukan mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia hidup di daerah rawan bencana. Komunitas sekolah merupakan salah satu pemangku kepentingan utama untuk kesiapsiagaan terhadap bencana alam. Komunitas sekolah adalah agen perubahan yang sangat potensial untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang fenomena alam serta memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan agar dapat mengurangi risiko bencana.

Kesiapsiagaan terhadap bencana alam idealnya telah diberikan sejak anak usia dini. Hal tersebut dapat dimanifestasikan sebagai program pendidikan yang didesain untuk menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan, pemahaman komunitas sekolah (termasuk institusi sekolah, guru dan siswa) mengenai kondisi alam sekitarnya dan ketrampilan. Selanjutnya pendidikan tersebut dapat terus berkesinambungan dengan berbagai bentuk pembelajaran sebagai wujud penguatan sekolah dalam mengurangi risiko bencana.

Kajian untuk mengukur kesiapsiagaan sekolah yang dikembangkan untuk menggugah kesadaran seluruh pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan baik individu maupun kolektif di sekolah dan lingkungan sekolah dalam hal kesiapsiagaan bencana, dapat dilakukan dengan menggunakan 5 (lima) parameter : (LIPI : 2009)

Pengetahuan dan Sikap

Diibaratkan sebagai bangunan sekolah, parameter pengetahuan dan sikap diumpamakan sebagai pondasi dari bangunan sekolah tersebut. Parameter pengetahuan dan sikap haruslah kuat sebagai landasan bagi komunitas sekolah dalam mengantisipasi bencana alam. Pengetahuan tentang fenomena alam, khususnya gempa bumi dan dan tsunami, dan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana merupakan faktor yang penting. Karena itu, untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap siswa dan guru, sekolah harus memasukkan materi terkait kesiapsiagaan bencana ke dalam proses belajar mengajar. (Triyono: 2011)

Sebagai acuan parameter pengetahuan dan sikap dapat dilihat, pertama, integrasi pendidikan PRB masuk kedalam kurikulum sekolah (pelajaran pokok, muatan lokal dan ekstrakulikuler); kedua, penyusunan standar kompetensi silabus, RPP kesiapsiagaan dan pelaksanaannya,; dan ketiga peningkatan kapasitas dalam pemberian materi kesiapsiagaan dan ketersediaan bahan ajar.

Kebijakan

Salah satu parameter yang memegang peranan penting dalam menwujudkan sekolah yang siaga bencana adalah kebijakan. Parameter ini menjadi acuan dan dasar hukum pelaksanaan berbagai kegiatan di sekolah. Capaian indikator parameter kebijakan dilakukan dengan memverifikasi surat/dokumen yang dimiliki yang menyatakan/menetapkan : 1) masuknya materi kesiapsiagaan terhadap bencana dalam proses belajar mengajar di sekolah, 2) adanya latihan/simulasi evakuasi bencana yang dilakukan di sekolah secara reguler, 3) gugus/kelompok siaga bencana di sekolah, dan 4) adanya alokasi dana untuk kegiatan kesiapsiagaan di sekolah.

Rencana tanggap darurat

Rencana tanggap darurat merupakan parameter kesiapsiagaan komunitas sekolah berkaitan erat dengan persiapan rencana dan tindakan dalam merespon kondisi sebelum pada saat dan pasca bencana. Kesiapan rencana tanggap darurat sekolah diindikasikan beberapa hal, yaitu rencana penyelamatan dan evakuasi serta pertolongan pertama, penyediaan atau pengamanan kebutuhan dasar sekolah, penyediaan peralatan evakuasi, serta latihan/simulasi evakuasi.

Mobilisasi Sumberdaya

Mobilisasi sumber daya berkaitan dengan upaya sekolah dalam mengerahkan segenap kemampuan dan kapasitas yang dimiliki sekolah baik sarana-prasarana, perlengkapan dan pendanaan serta sumber daya manusia(warga sekolah). Tidak hanya dari segi materi saja, keberadaan sekolah ditengah-tengah masyarakat juga bisa memberikan nilai lebih dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana dengan meningkatkan kerja sama yang melibatkan institusi pemerintah/non pemerintah yang bergerak dalam bidang pengurangan risiko bencana. Mobilisasi sumber daya juga mencakup penyediaan peralatan untuk evakuasi, dan kebutuhan dasar/logistik pertolongan pertama dan peringatan bencana.

Sistem Peringatan Bencana

Sistem peringatan bencana memiliki arti penting dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana dilingkungan sekolah. Sistem peringatan bencana pada lingkungan sekolah terkait dengan peralatan yang digunakan sekolah dan tanda/bunyi yang mengisyaratkan kepada warga sekolah untuk dapat memberikan respon yang tepat pada saat bencana diperkirakan akan terjadi.

Kajian tingkat kesiapsiaagan sekolah terhadap bencana telah diaplikasikan di lima sekolah (SMAN 1,SMAN 6, MAN 2, SMPN 1, SDN2) Kota Banda Aceh sejak 2009 yang didukung oleh UNESCO bekerjasama dengan LIPI, TDMRC, dan Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Kemudian , monitoring dan evaluasi yang dilakukan pada tahun 2011 memberikan gambaran masih minimnya usaha-usaha yang dilakukan sekolah dalam upaya pengurangan risiko bencana. Akan tetapi, sekolah memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan pengetahuan kebencanaan di masa yang akan datang. Hal ini menjadi catatan penting pada saat melakukan pembinaan lebih lanjut ke sekolah dalam mendukung tercapainya sekolah yang siaga bencana.

Tags:
author

Author: