GPS Geodetik: Monitoring Kualitas Bendungan Waduk

Saat ini, GPS Geodetik dual frekwensi (L1 & L2) telah banyak diaplikasi dalam pengamatan/monitoring turun tidaknya suatu bangunan inftrastruktur seperti jembatan, bangunan publik bertingkat, bendungan, dan anjungan minyak lepas pantai. Pada kesempatan ini saya mencoba berbagi tentang penggunaan metode GPS Geodetik (L1 & L2) dalam upaya pengurangan risiko bencana kegagalan bendungan untuk waduk. Prinsip pengamatan/monitoring menggunakan GPS bisa dilakukan secara berterusan (continue) atau secara periodik/berkala seperti pernah saya singgung pada tulisan GPS untuk mitigasi gempa bumi dan GPS untuk memantau gerakan tanah.

Dalam pekerjaan monitoring kualitas bendungan untuk waduk berdasarkan data deformasi (perubahan horizontal dan vertikal) ini, perlu adanya titik-titik pengamatan GPS di atas bendungan itu sendiri. Titik pengamatan ini diusahkan diletakkan di zona tekanan bendungan tersebut. Apabila ingin dilakukan pengamatan secara berterusan (continue) maka perlu ditempatkan GPS Geodetik (L1 & L2) di atas bendungan dan mengambil data secara terus menerus tanpa stop. Dari data continue akan bisa dilihat apakan bendungan tersebut bergeser,  turun atau tetap di tempatnya. Apabila pengukuran secara continue dianggap terlalu mahal maka bisa dilakukan pengukuran GPS pada titik-titik pengamatan yang ada di atas bendungan tersebut secara periodik atau berkala. Pengukuran secara berkala ini bisa dilakukan dalam jangkat waktu 1 bulan sekali atau setahun 4 kali. Makin sering dilakukan monitoring maka akan semakin bagus.

Waduk Cixerri, Italia

Waduk Cixerri terdapat di pulau Sardinia Sardinia terletak di antara Italia, Spanyol dan Tunisia, di sebelah Selatan Pulau Korsika. Sardinia memiliki status regioni otonomi Italia dan memiliki sebuah waduk/empangan yang mampu menampung air sebanyak 10 Juta meter kubik. Bendungan Cixerri memiliki tinggi 30 meter dan panjang 1295 meter. Kondisi bendungan yang sangat panjang ini menuntut dilakukan pengamatan/monitoring deformasi secara continues menggunakan GPS geodetik.

GPS Geodetik

Gambar 1. GPS Geodetik yang dipasang di sepanjang bendungan Cixerri (Sumber: www.imoss.com)

Pada Gambar 1 dapat diihat posisi GPS yang dipasang sepanjang bendungan Cixerri yang tandai dengan tanda A, B, C dan D, sedangkan Ref1 dan Ref2 merupakan titik referensi untuk pengolahan data secara diferensial untuk mendapatkan akurasi dalam orde milimeter (mm). Dari hasil pengamatan selama 1 tahun terindikasi adanya perubahan deformasi secara horizontal dan vertikal pada bendungan Cixxeri. Gambar 2 di bawah ini menunjukkan perubahan horizontal dalam kurun waktu 1 tahun di titik pengamatan GPS B dan C sejauh 4,5 mm. Perubahan secara horizontal dan vertikal terhadap bendungan ini akan sangat bermanfaat kepada pembuat kebijakan dalam upaya mitigasi bencana kegagalan bendungan/waduk.

horizontal in BC

Gambar 2. Perubahan horizontal selam 1 tahun di titik GPS B dan C

Bendungan di Indonesia

Saat ini, beberapa bendungan di Indonesia sudah dilakukan pengamatan/monitoring deformasinya menggunakan GPS Geodetik ini diantaranya bendungan Jatiluhur dan mungkin beberapa bendungan lainnya. Untuk daerah saya di Aceh, kami punya waduk Keuliling yang sampai saat ini belum pernah dilakukan pengamatan deformasi terhadap bendungannya. Apakah bendungannya ada pergeseran dan turun atau tidak, sampai saat ini masih belum tahu. Bagaimana dengan bendungan waduk di tempat saudara? apakah sudah pernah di monitor? Apabila belum, maka mintalah pihak terkait di daerah anda untuk melakukannya. Kita semua pasti tidak ingin bangunan infrastruktur yang dibangun untuk kemaslahatan bersama malah ujung-ujungnya menjadi mesin pembunuh warga sekitar. Semoga masyarakat kita makin siaga terhadap segala bentuk bencana…..

Semoga artikel monitoring bendungan ini bermanfaat

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.