Pemantauan Gelombang Tsunami

Beberapa minggu yang lalu saya sudah menulis tentang penggunaan GPS Geodetik untuk Pengamatan Gunungapi, Pemantauan pergerakan lempeng bumi, Penurunan Tanah, Pergerakan Tanah, dan Pemantauan bendungan. Dalam tulisan kali ini, saya mencoba mengulas sedikit tentang aplikasi GPS Geodetik untuk memantau gelombang Tsunami.

Gelombang tsunami konon katanya berbeda dengan gelombang laut biasa. Ketika berada di laut dalam, gelombang tsunami memiliki kecepatan sama kecepatan pesawat terbang atau sekitar 800 km/jam dan panjang gelombang yang sangat panjang tapi memiliki tinggi gelombang (amplitudo) yang sangat rendah. Saat ini ada alat untuk mengamati perubahan gelombang laut atau gelombang tsunami yang dikenal dengan nama Buoy. Buoy ini diampungkan di tengah laut untuk mengamati perubahan tinggi rendah permukaan air laut.

Peralatan Buoy

Untuk bisa mengamati perubahan tinggi-rendah gelombang laut atau gelombang tsunami maka pada alat Buoy tersebut harus dipasang GPS geodetik yang memiliki akurasi dalam orde centimeter atau milimeter. GPS reseiver yang dipasang di sebuah Buoy  secara terus-menerus harus menerima koordinat dalam lintang, bujur dan ketinggian. Namun karena alat Buoy ini dipasang di tengah laut sana dan antena GPS-nya juga sering miring, maka  ada beberapa peralatan lain yang harus dipasang untuk menunjang kerja koreksi data GPS supaya bisa mendapatkan ketelitian dalam orde milimeter. Peralatan penunjang lain yang harus dipasang untuk bisa mengukur gelombang tsunami di Bouy antara lain;

  1. Solar panel; berfungsi sebagai sumber energi untuk semua peralatan Buoy.
  2. Sistem komunikasi satelit; untuk mengirim nilai tinggi gelombang ke pusat pengendali sekaligus untuk mengirim data GPS untuk dilakukan prosesing secara diferesial baik post prosesing atau real-time maka diperlukan ada sistem komunikasi yang mengirimkan data tersebut.
  3. Clinometer; berfungsi untuk mengukur sudut kemiringan Buoy karena terombang-ambing oleh gelombang laut.  Data kemiringan ini diperlukan untuk mengkoreksi kemiringan antena GPS karena apabila antena GPS  miring-miring karena gelombang laut atau gelombang tsunami maka koordinat yang diberikan akan melenceng jauh dan tidak akurat.
  4. Dan peralatan pendukung lainnya.

Sebaran Buoy Seluruh Dunia

Bouy untuk gelombang tsunami

Gambar 1. Sebaran Buoy di seluruh dunia (sumber: www.ndbc.noaa.gov)

Setelah Tsunami Aceh terjadi, masyarakat dunia mulai sadarkan pentingnya upaya memantau gelombang tsunami. Berdasarkan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) US, saat ini ada sekitar 1.153 buah Buoy telah dipasang seluruh dunia, sampai tulisan ini dituliskan, ada 924 buah Buoy yang masih akfif mengirim data ketinggian gelombang ke pusat pengendali. Pada gambar 1 dapat dilihat sebaran Bouy seluruh dunia. Titik warna kuning menunjukkan Buoy yang masih aktif dalam 8 Jam terakhir dan titik warna merah merupakan Bouy yang sudah tidak akfif lagi.

Gempa 11 April 2012 di sebelah Setatan kepulauan Simeulue memicu tsunami kecil di beberapa kepulauan terdekat dengan sumber gempa. Gelombang tsunami ini terekam oleh Bouy punya-nya NOAA – US yang dipasang di samudra Hindia seperti yang terlihat pada gambar 2 di bawah ini.

gelombang tsunami 2012

Gambar 2. Gambaran Pasut air laut oleh Buoy milik NOAA (sumber: Syamsidik/TDMRC, 2012)

Pada Buoy A (phuket) dan B (Bengali) milik NOAA terlihat sekali adanya kenaikan air laut atau gelombang tsunami akibat gempa tanggal 11 April 2012. Data Buoy miliknya NOAA ini dapat diakses oleh umum sehingga siapa saja boleh mengambil dan melihat data perubahan air laut atau pasut (pasang-surut) dari Bouy NOAA.

Semoga bermanfaat dan kita makin memahami cara mengamati gelombang tsunami bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang Bencana Alam

Rate this article!
Pemantauan Gelombang Tsunami,4.33 / 5 ( 3votes )
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.