Pentingnya Pembentukan Sekolah Siaga Bencana di Aceh

Oleh: Khairul Anwar

Indonesia dapat dikatakan sebagai “supermarket bencana” dikarenakan beragam bencana terjadi di Indonesia silih berganti dari waktu ke waktu. Tsunami di Aceh merupakan salah satu bencana terbesar di dunia dalam beberapa dekade terakhir ditinjau dari sudut jumlah korban atau kerugian baik itu korban jiwa maupun harta benda. Sampai saat ini bencana tidak pernah berhenti. Gempa bumi di Nias, Padang dan Yogyakarta. Banjir, longsor, letusan gunung api dan banjir bandang juga terjadi di berbagai daerah. Bencana tsunami, gempa bumi, dan letusan gunung api kerap terjadi di Indonesia karena secara geografis Indonesia berada di atas pertemuan tiga lempeng raksasa yaitu lempeng Eurasia, lempeng samudra Pasifik dan lempeng Indo-Australia. Selanjutnya, banjir, longsor, dan banjir bandang kerap terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan sebagai sumber kehidupan.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sekolah sebagai lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan warga sekolah, yang terdiri dari komite sekolah, kepala sekolah, guru, siswa dan masyarakat di sekitar sekolah. Sekolah juga hendaknya menjadi rumah kedua bagi siswa untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan perlindungan dari ancaman bahaya yang datang.

Warga sekolah merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap bencana jika pengetahuan tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana masih belum dimiliki oleh sekolah tersebut. Karenanya, peningkatan kapasitas sekolah yang terdiri dari komite, kepala sekolah, guru dan siswa sangat penting untuk meminimalisasi jatuhnya korban jiwa. Peningkatan kapasitas tersebut dapat dilakukan dengan berbagai strategi, antara lain seminar, workshop, pelatihan tentang pengetahuan pengurangan risiko bencana, dan simulasi yang dilakukan secara reguler. Pembentukan sekolah siaga bencana merupakan ide yang cemerlang untuk menciptakan kesiapsiagaan di sekolah. Indikator yang diperlukan untuk membentuk sekolah siaga bencana di daerah yang sering dilanda bencana terdiri atas lima parameter yaitu (1) pengetahuan dan sikap, (2) kebijakan, (3) rencana tanggap darurat, (4) peringatan dini, dan (5) mobilisasi sumber daya.

Indikator pengetahuan dan sikap adalah faktor utama yang harus dimiliki sekolah. Indikator ini menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan warga sekolah tentang pengetahuan kebencanaan, seperti pengetahuan guru mengenai jenis bahaya, sumber bahaya, dampak bahaya dan tanda – tanda bahaya di lingkungan sekolah. Menceritakan sejarah bencana yang pernah terjadi di sekolah dan lingkungan sekitarnya merupakan hal positif untuk menumbuhkan pemikiran siswa bahwa pengetahuan bencana sangat diperlukan. Pemetaan kerentanan dan kapasitas sekolah diperlukan untuk menghitung seberapa besar risiko yang dimiliki sekolah dan kapasitas yang bisa digunakan untuk meminimalisasi jatuhnya korban jiwa. Disamping itu, sikap siaga akan muncul dari pengetahuan yang dimiliki oleh komponen sekolah dengan mengadakan simulasi bencana secara reguler untuk meningkatkan keterampilan siswa dan guru dalam proses rencana tanggap darurat.

Kebijakan kepala sekolah merupakan suatu hal yang dibutuhkan dalam memformalkan kegiatan kesiapsiagaan di sekolah. Kebijakan ini berisi hal–hal yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Memformalkan kegiatan kesiapsiagaan di sekolah dilakukan dalam bentuk surat keputusan kepala sekolah terkait dengan struktur organisasi, program kurikuler dan ekstrakurikuler, penyusunan anggaran sekolah dan perencanaan tanggap darurat untuk memudahkan manajemen sekolah, guru, dan siswa yang berkecimpung dalam kegiatan tersebut.

Perencanaan tanggap darurat dibutuhkan untuk memudahkan penyiapan sumber daya, logistik, dan prosedur standar menghadapi bencana yang mungkin akan terjadi. Perencanaan ini perlu disepakati oleh komite, kepala sekolah, guru dan siswa dalam menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan sebelum, saat, dan sesudah bencana. Untuk mendukung rencana tanggap darurat diperlukan pembentukan gugus siaga bencana yang berfungsi membagi peran tugas dan tanggung jawab setiap kelompok jika terjadi bencana. Gugus siaga bencana terdiri atas kelompok peringatan dini, kelompok pertolongan pertama, kelompok penyelamatan dan evakuasi, kelompok logistik, dan kelompok keamanan.

Kelompok peringatan dini mempunyai kewajiban dan tanggungjawab dalam penyebarluaskan informasi yang berhubungan dengan kebencanaan kepada seluruh komponen yang ada di sekolah. Kelompok pertolongan pertama berfungsi pada saat terjadinya bencana, kelompok ini melakukan pertolongan pertama kepada korban untuk menyelamatkan jiwa korban dan mencegah terjadinya cacat permanen dan melakukan rujukan ke puskesmas, rumah sakit, rumah sakit darurat untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan yang dilakukan oleh dokter dan perawat.

Kelompok penyelamatan dan evakuasi berfungsi mencari, membantu, menangani korban dan mengevakuasi korban yang berada di daerah bahaya dan melakukan rujukan ke puskesmas, rumah sakit dan rumah sakit darurat. Kelompok ini juga berfungsi melakukan latihan simulasi, menentukan jalur evakuasi yang aman dan titik kumpul. Kelompok logistik berfungsi membuat tempat pengungsian yang telah ditentukan posisinya oleh kelompok penyelamatan dan evakuasi, membuat pusat informasi, dapur umum, gudang logistik, rumah sakit darurat, dan tempat MCK. Kelompok keamanan bertugas melakukan pengawalan saat evakuasi, membantu kelompok evakuasi dan penyelamatan pada saat terjadi bencana kemudian melakukan pendampingan bersama guru dan siswa di titik aman.

Peringatan dini di sekolah adalah peringatan yang diberikan kepada komponen sekolah agar siaga dan waspada. Peringatan dini ini terlebih dahulu disepakati oleh komponen sekolah untuk menghindari kesalahpahaman. Peringatan dini ini berupa alat yang memiliki bunyi khusus dan bisa digunakan ketika aliran listrik padam seperti lonceng dan kentongan.

Mobilisasi sumber daya adalah bagaimana cara meningkatkan kapasitas sekolah dengan segala hal yang dimiliki oleh sekolah, dan bagaimana pergerakan di dalam sekolah. Hal – hal yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas warga sekolah antara lain: (1) Pelatihan kesiapsiagaan bencana untuk komponen sekolah, (2) Bimbingan teknis dan penyebarluasan hasil seminar/penelitian/pertemuan, (3) Rencana pemantauan dan evaluasi terhadap rencana evakuasi dan simulasi, pertolongan pertama dan peringatan dini, dan (4) Sistem komando, tersedianya prosedur untuk keadaan darurat bencana.

Sekolah juga harus memikirkan sumber pendanaan yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana. Penganggaran dana untuk kegiatan kesiapsiagaan di sekolah perlu dilakukan untuk keberlanjutan program pengurangan risiko bencana. Sumber pendanaan dapat diperoleh dari iuran rutin sekolah atau sumbangan sukarela dari siswa dan dewan guru atau bantuan dari lembaga lainnya.

Di Banda Aceh sudah ada beberapa sekolah rintisan SSB, yaitu SMAN 1, SMAN 6, MAN 2, SMPN 1, SDN 1 dan SDN 2. Sekolah-sekolah ini diinisiasi oleh LIPI, Compress, UNESCO, JTIC TDMRC,UN ISDR dan Uni Eropa pada tahun 2009/2010. Akan tetapi, karena berbagai faktor yang kurang mendukung, implementasi kelima indikator SSB di sekolah-sekolah tersebut belum maksimal hingga saat ini. Karena itu, pemerintah Kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan kabupaten/kota lain di Provinsi Aceh hendaknya dapat mendorong lahirnya SSB-SSB baru demi mendukung program pengurangan risiko bencana di Aceh pada masa yang akan datang.

Tags:
author

Author: