School Watching, Bentuk Upaya PRB Di Sekolah

school watching in acehSchool Watching merupakan sebuah kegiatan bagi masyarakat sekolah (guru, staf administrasi, murid, satpam, dll) dengan cara berkeliling melihat wilayah sekitar sekolah dan memahami tempat-tempat yang berbahaya ketika terjadi bencana maupun fasilitas untuk keselamatan serta memikirkan atau mencari solusi pengurangan risiko bencana yang mungkin akan terjadi. Dasar pemikiran pembuatan School Watching adalah kegiatan Town Watching yang biasa diterapkan untuk masyarakat kota sehingga kota mereka menjadi kota tangguh dan desa tangguh. Metode-metode Town Watching tersebut sebenarnya bisa diadopsi dan diterapkan di sekolah-sekolah yang berada pada kawasan rawan bencana.

Beberapa tahun yang lalu, pihak Indonesia yang diwakili oleh LIPI dan Ristek serta Jepang diwakili oleh JICA dan JST menerbitkan sebuah Buku Pegangan Penanggulangan Bencana dengan Metode “Town Watching”. Dalam buku tersebut dijelaskan dengan rinci cara-cara melakukan pengamatan pada sebuah kota, memetakan dan mencari solusi supaya aman dari bencana. Dasar metode buku tersebut kami diadopsi dalam program School Watching bagi masyarakat sekolah.

Metode School Watching

Dalam menerapkan metode School Watching untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana (PRB) di sekolah, ada 4 poin penting yang harus betul-betul diperhatikan.

  • Pengamatan dengan Kegiatan Berkeliling Sekolah; Murid-murid dan guru serta unsur sekolah lainnya berjalan kaki mengamati lingkungan sekolah. Yang mereka amati adalah tempat-tempat yang berbahaya (dinding retak, kaca jendela yang pecah, langit-langit yang mau jatuh, lemari yang tidak diikat, pintu kelas yang kecil, dll) dan tempat-tempat yang aman (halaman yang luas, pintu yang besar, meja yang kuat, dll). Selain mengamati lingkungan sekolah, mereka juga harus mengamati kawasan sekeliling sekolah atau kawasan di luar sekolah. Pengamatan kawasan sekeliling sekolah dilakukan untuk perencanaan jalur evakuasi apabila bencana terjadi. Dalam penerapannya di sekolah, saya bersama teman-teman volunteer Compass TDMRC-Unsyiah biasanya membagi siswa dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang mengamati lingkungan sekolah (kelas, ruang guru, perpustakaan, ruang UKS, laboratorium, halaman sekolah, dll) dan ada 2 (dua) selompok yang akan mengamati jalur evakuasi dan lingkungan sekeliling sekolah yang bagus dan aman.
  • Membuat Peta Hasil Pengamatan; Setelah melakukan pengamatan dengan cara berkeliling, siswa harus memetakan kawasan-kawasan yang bahaya dan aman. Peta tersebut mereka buat sendiri, dan disini kita akan melihat kreatifitas siswa dalam mengambar dan membuat peta. Dalam membuat peta, kita harus memberikan kebebasan penuh kepada siswa supaya tingkat kreatifitas dan imaginasi mereka kian berkembang.
  • Diskusi untuk Pemecahan Masalah; Setelah mereka memetakan tempat-tempat yang bahaya dan aman, selanjutkan siswa harus berdiskusi sesama anggota kelompok yang mencari solusi terhadap tempat-tempat yang berbahaya tadi. Misalnya saja, siswa menemukan bahwa di 1 dan 2, pintu kelasnya masih sempit sehingga ketika gempa bumi terjadi siswa akan susah untuk keluar dari ruangan. Permasalahan ini bisa mereka sampaikan ke Kepala Sekolah supaya diganti dengan pintu yang lebih besar.
  • Presentasi; Hasil pengamatan berupa kawasan-kawasan yang bahaya dan aman yang sudah ditampilkan dalam peta serta solusi terhadap permasalahan yang ada, harus dipresentasikan oleh siswa di depan teman-teman dan unsur sekolah lainnya. Selama presentasi dan sesi tanya jawab, tentu akan banyak sekali pertanyaan, masukan dan saran dari siswa-siswa yang lain.
pengamatan lingkungan sekolah

Penulis bersama siswa melakukan pengamatan di luar lingkungan sekolah

peta sekolah

Siswa membuat peta hasil pengamatan program School Watching

sekolah siaga bencana

Siswa mempresentasikan hasil pengamatan dan temuan di sekolah mereka

Ke-empat proses di atas, merupakan metode yang kami terapkan dalam upaya membentuk sekolah siaga bencana dalam program School Watching. Seperti yang saya jelaskan di awal, selain melakukan pengamatan di lingkungan, siswa dan guru juga harus melakukan pengamatan di luar lingkungan sekolah untuk mencari jalur evakuasi apabila terjadi bencana alam. Saat ini, telah terbentuk lebih dari 10 sekolah siaga bencana di Banda Aceh dan Aceh Besar yang menerapkan metode School Wathing. Penjelasan detail tentang pengamatan Jalur Evakuasi Sekolah dan Prosedur Tetap Evakuasi di Sekolah, akan saya jelaskan pada tulisan berikutnya.

Semoga artikel School Watching ini bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua.

Wassalam,

Ibnu Rusydy

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.

8 Responses

  1. author

    syafii harahap4 years ago

  2. author
    Author

    Ibnu Rusydy4 years ago

  3. author

    Masturin Adi Wijaya4 years ago

  4. author
    Author

    Ibnu Rusydy4 years ago

  5. author

    rovicky4 years ago

  6. author

    budi4 years ago

  7. author
    Author

    Ibnu Rusydy4 years ago

  8. author
    Author

    Ibnu Rusydy4 years ago

Leave a Reply