Longsor Anak Krakatau Yang Memicu Tsunami, Pernah Diprediksi?

Pada tanggal 22 Desember 2018 malam, bencana tsunami kembali terjadi di negara kita. Tsunami kali ini menerjang kawasan Banteng dan Lampung. Apa penyebab tsunami tersebut? Hampir semua ahli sepakat bahwa penyebabnya adalah longsoran bawah laut.

Tsunami akibat longsoran bawah laut dan pinggir laut, sering datang tanpa peringatan. Berbeda dengan tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi, terlebih dahulu kita merasakan goncangan gempa bumi.

Tsunami akibat longsoran bawah laut pernah terjadi di Indonesia dan beberapa disebabkan oleh getaran gempa bumi seperti tsunami Palu.

Baca: Mengungkap Misteri Penyebab Tsunami Palu

Tsunami yang diakibat oleh aktifitas gunung api pernah terjadi di Indonesia pada tanggal 26 Agustus 1883. Waktu itu Gunung Krakatau meletus dengan sangat dahsyat dan memicu tsunami yang sangat tinggi.

Pada tanggal 22 Desember 2018, Anak Krakatau kembali beraktifitas, dan terjadi longsoran di sisi Baratdaya dan Barat gunung api Anak Krakatau.

Tsunami Selat Sunda 2018

Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 diperkirakan terjadi akibat adanya longsoran di pinggir Gunung Api Anak Krakatau.

Video di bawah ini akan bisa menjelaskan seperti Tsunami Selat Sunda 2018 tersebut terjadi.

Tsunami Selat Sunda 2018 ini terdeteksi oleh Tide Gauge yang dipasang oleh BIG (Badan Informasi dan Geospasial) Indonesia.

 

pendeteksi tsunami

Kenaikan muka air laut tiba-tiba teramati di Kawasan Marina Jambu (sumber: BIG)

 

Tsunami Selat Sunda 2018, terjadi akibat rombohkan lereng sebelat Baratdaya dan Barat Anak Krakatau. Hal ini dibuktikan dengan foto udara perbandingan kondisi sebelum dan sesudah tsunami.

Perubahan Gunung Api Anak Krakatau Sebelum dan Sesudah Tsunami

Perubahan bentuk Anak Gunung Krakatau sebelum dan sesudah longsor (Sumber: gsi.go.jp)

 

Pada Gambar di atas, jelas terlihat adanya sisi Gunung Api Anak Krakatau yang hilang akibat longsor. Longsoran terjadi di sisi Baratdaya dan Barat gunung api tersebut.

Mengapa terjadi di sisi Baratdaya dan Barat? Seperti apa Bathimetri bawah laut sisi Baratdaya dan Barat anak Krakatau? apakah tsunami tersebut pernah diprediksi sebelumnya? Berikut penjelasannya..

Tsunami Yang Pernah Diprediksi

letak Anak Krakatau

Letak Gunung Api Anak Krakatau di Selat Sunda (SUmber: Giachetti dkk, 2012)

Pada tahun 2012, seorang peneliti dari Clermont Universite, Universite´ Blaise Pascal Prancis, bernama Thomas Giachetti.

Bersama rekannya dia melakuan permodelan prediksi tsunami melakukan permodelan tsunami akibat runtuhnya lereng Baratdaya dan Barat Anak Krakatau dan memprediksi kawasan-kawasan terdampak.

Gunung Api Anak Krakatau di kelilingi oleh pulau Rakata, Sertung, dan pulau Panjang.

Giachetti bersama kawan-kawan menggunakan kode numerik VolcFlow untuk memodelkan keruntuhan lereng Baratdaya dan Barat Anak Krakatau dan proses penjalaran gelombang tsunami yang akan menerjang kota-kota di Banten dan Lampung.

Mereka juga mencatat bawah pada Oktober 1981, tsunami kecil pernah tercatat terjadi di Rakata pada awal-awal perbentukan gunung api Anak Krakatau.

Pada awal kelahirannya saja, anak krakatau sudah menimbulkan tsunami, memang lah….

Mengapa Sisi Baratdaya dan Barat Anak Krakatau?

Mungkin terbisik dipikiran kita, mengapa mereka sudah memperkirakan sisi Baratdaya dan Barat Anak Krakatau tidak stabil?

Dasarnya tidak lain adalah bentuk batrimetri sisi Baratdaya dan Barat gunung api Anak Krakatau yang sangat curam. Kecuraman sisi Baratdaya dan Barat Anak Krakatau karena terdapat Kaldera Gunung Api Krakatau hasil letusan 26 Agustus 1883.

batrimetri anak krakatau

Sisi Baratdaya Anak Krakatau terdapat Kaldera hasil letusan 1883

Pada gambar di atas dapat dilihat seperti apa kondisi bawah laut sisi Baratdaya Anak Krakatau (gambar a). Curamnya sisi Baratdaya, sehingga sangat labil dan rentan terhadap terjadinya longsoran bawah laut yang memicu tsunami.

Dalam bentuk 3 dimensi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

bathimetri krakatau

Bathimetri anak krakatau yang memperlihatkan Kaldera letusan 1883 dalam bentuk 3 Dimensi

Model Prediksi Tsunami Selat Sunda

Apabila sisi Barat daya tersebut longsor, menyisakan bentuk Gunung Api Anak Krakatau seperti gambar c di atas, maka tsunami yang akan terjadi seperti gambar di bawah ini.

Model Prediksi tsunami Selat Sunda yang dibuat oleh Giachetti pada tahun 2012. Gambar kanan menunjukkan prediksi waktu sampainya gelombang tsunami, gambar kiri menunjukkan tinggi tsunami. Tabel di bawahnya menunjukkan waktu dan tinggi di masing-masing kota terdampak

Mungkin saja ketinggian dan waktu tibanya gelombang tsunami antara yang diprediksi oleh Giachetti dan kawan-kawan sedikit berbeda dengan kejadian Tsunami Selat Sunda 2018.

Namun, para peneliti tersebut sudah pernah mengingatkan kita bahwa di sana ada potensi bencana tsunami dan beberapa kota berada dalam ancaman tsunami tersebut.

Hasil para penelit-peneliti harus menjadi acuan kita dalam menilai risiko bencana sebuah kota. Semoga artikel Tsunami Selat Sunda 2018 ini bermanfaat.

 

 

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.

Leave a Reply