Mengungkap Misteri Penyebab Tsunami Palu

Bencana Alam Tsunami Palu yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 pada awalnya membuat semua peneliti dunia terkejut. Gempa yang bumi disebabkan oleh gempa bumi dengan mekanisme sumber patahan geser, biasanya tidak akan menimbulkan tsunami.

Namun apa yang terjadi di Palu Sulawesi Tengah, tsunami menerjang pinggiran pantai teluk Palu beberapa menit setelah gempa bumi.

USGS dan BMKG mencatat bahwa gempa bumi Sulawesi Tengah tersebut terjadi pada episenter 0,18 LS dan 119,85 BT pada kedalaman 10 Km dengan magnitudo gempa Mw 7,5.

Baca: Gempa Palu 28 September 2018 yang Memicu Tsunami

Waktu Kejadian Tsunami

Mengutip dari artikel yang ditulis oleh Abdul Muhari, dkk (2018), Tsunami Palu mencapai pantai Pantoloan 6 menit setelah gempa bumi terjadi.

Waktu Tsunami Palu

Ketinggian tsunami yang diukur di Pantai Pantoloan dan Mamuju (Abdul Muhari, dkk, 2018)

Fakta 6 menit tersebut sesuai dengan data yang tercatat oleh alat pengukuran muka air laut (Tidal Gauge) setinggi 2 meter di pantai Pantoloan.

Gempa bumi Palu terjadi pada pukul  17:02:44 WIB atau pukul 18:03;04 WIT dan tsunami mencapai pantai Pantoloan pada pukul 18:09 WIT.

Cepatnya waktu sampai tsunami menjadi tanda tanya besar bagi peneliti, apabila penyebabnya adalah pergeseran lempeng bawah laut (tektonik), maka waktu sampaikan juga gelombang tsunami ke pantai mungkin lebih lama dari 6 menit.

Baca: Tsunami Aceh

Fakta lain cepatnya sampai gelombang tsunami setelah gempa, dapat dilihat pada video cctv di bawah ini.

Pada video di bawah ini, terlihat jelas gempa bumi Palu terjadi pada pukul 18:02 WIT. Pada menit 18:04, terlihat beberapa orang lari menuju ke suatu tempat, sepertinya mereka melakukan evakuasi. Pada pukul 18:06 WIT tsunami menerjang rumah tersebut.

Lokasi rumah tersebut tidak diketahui tapi yang pasti, di kawasan rumah tersebut beda waktu antara gempa bumi dan tsunami cuma 4 menit. Lebih cepat dari tsunami yang menerjang pantai Pantoloan.

 

Melihat cepatnya waktu sampai gelombang tsunami, membuat para peneliti bertanya-tanya, apa sebenarnya penyebab tsunami Palu yang begitu dahsyat?

Abdul Muhari, dkk, (2018) juga mendapatkan fakta bahwa gelombang tsunami yang terjadi merupakan gelombang tsunami perioda pendek dan menyebabkan kerusakan sampai 300 meter dari bibir pantai.

Selain itu, berdasarkan saksi mata, beliau juga mengungkapkan bahwa tsunami masuk ke Kota Palu melalui sisi samping teluk.

Ketinggian Tsunami

Tsunami yang terjadi di Teluk Palu dan Donggala, mememiliki ketinggian yang bervariasi.

Berdasarkan survey lapangan yang dilakukan oleh Abdul Muhari, dkk beberapa hari setelah tsunami, mereka mencatat gelombang paling tinggi 7,3 meter. Namun percikan gelombang tsunami (splash wave) maksimum setinggi 10.45 meter.

Ketinggian Tsunami Palu 2018

Ketinggian Tsunami Palu berdasarkan hasil survey dari Abdul Muhari, dkk (2018). Gambar kiri merupakan tinggi tsunami dan gambar kanan tinggi gelombang genangan gelombang tsunami dari tanah dan jauhnya genangan.

Pada gambar di atas, warna biru menunjukkan ketinggian (splash wave) tsunami dan warna merah merupakan ketinggi tsunami.

Seperti apa bentuk Splash wave, dapat dilihat  pada gambar sebelah kanan atas yang dilingkari merah. Contoh gelombang Splash wave di atas diambil dari kejadian Tsunami Tohoku Jepang.

Baca: 6 Tsunami yang Terjadi di Abad 21

Penyebab Tsunami Palu

Melihat waktu sampainya gelombang tsunami palu cuma 4-6 menit setelah gempa bumi. Semakin menyakinkan para peneliti bawah penyebab tsunami palu bukan karena aktifitas tektonik.

Penyebab tsunami palu kemungkinan besar dikarenakan terjadinya longsor bawah laut yang menggangu volume air laut. Apa saja fakta kalau longsor menjadi penyebabnya?

Video youtube di bawah ini akan menunjukkan fakta bawah penyebab tsunami palu disebabkan oleh longsoran bawah laut.

.

Video tersebut diambil oleh penduduk yang saat kejadian gempa sedang berada di laut. Pada saat gempa terjadi, longsor bawah laut langsung terjadi.

Baca: Bisakah Longsor Bawah Laut dideteksi?

Berikut ini beberapa screen shoot video di atas.

penyebab tsunami palu

Gelombang tsunami mulai terbentuk akibat adanya gangguan bawah laut.

Gelombang tsunami terbentuk namun di atas air dan perbukitan terlihat adanya debu-debu yang naik. Debu-debu ini mengindikasikan adanya longsoran bawah laut.

penyebab tsunami palu

Naiknya debu akibat longsor bawah laut

Selain video yang diupload oleh Hasrul Saputra, video dugaan kejadian longsor juga dikeluar oleh bapak Gerry melalui halaman twitternya.

Bapak Gerry Soejatman merupakan pilot Batik Air yang lepas landar beberapa detik sebelum gempa terjadi.

longsoran bawah laut tsunami palu

Beberapa saat setelah gempa, pilot Batik Air sempat merekam gangguan air laut waktu gempa terjadi.

Dalam lingkaran warna hitam terlihat jelas adanya gangguan air laut setelah gempa.

Gangguan air laut ini bersifat sangat lokal menjadi indikasi adanya longsoran bawah laut.

Longsoran bawah laut yang sangat di mungkinkan terjadi dan menyebabkan tsunami.

Kejadian tsunami akibat longsor bukan pertama sekali terjadi.

Pada tahun 2010, gempa yang bersumber dari darat menerjang Haiti.

Gempa tersebut menyebabkan longsor bawah laut dan memicu tsunami di Haiti pada tahun 2010.

Pada tahun 2010, longsoran yang disebabkan gempa di Haiti tidak begitu luas sehingga tsunami yang terjadi bersifat lokal.

Baca: Lessons learned dari Tsunami Haiti 2010

Untuk kasus Teluk Palu, di kiri kanan teluk palu banyak terdapat perbukitan dan airan sungai.

Endapan sedimen sungai yang dibawa ke laut akan terendapkan di dasar laut. Apabila proses pengendapan begitu cepat, sedimen tersebut akan bersifat lunak.

Selain itu, topografi bawah laut yang sangat miring juga akan mempengaruhi longsor bawah laut. Seperti apa topografi bawah laut teluk Palu dan Selat Sulawesi, bisa dilihat pada artikel Patahan Palu-Koro yang Menerus ke Laut dan Memicu Tsunami.

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.