Jaringan Broadband Seismic dan Accelerometer Indonesia (http://inatews.bmkg.go.id)
Ketika gempa bumi terjadi, gelombang gempa bumi tersebut akan direkam oleh seismometer yang terpasang di seluruh indonesia. Menurut BMKG, di seluruh Indonesia saat ini sudah terpasang banyak seismometer yang terdiri dari 160 broadband seismometer, 500 accelerometer. Kesemua seismometer tersebut kemudian dikelompokan ke dalam 10 Regional Center. Dengan jumlah sensor tersebut dan jarak tiap sensor ±100 km, maka dalam 3 menit pertama sumber gempabumi yang terjadi di wilayah Indonesia dapat ditentukan lokasinya.
Bagaimana cara kerja Seismometer, pembaca boleh singgah ke link https://www.ibnurusydy.com/perekaman-gempa-pada-seismomete-3-komponen/
Beberapa detik setelah gempa bumi terjadi data yang terekam akan dikirim melalui VSAT ke Pusat dan akan diproses serta dianalisis oleh seismologist untuk dinyatakan apakah berpotensi tsunami atau tidak. Dukungan data dari Buoys yang dipasang akan memberikan keputusan yang akurat.
Stasiun GPS Geodetik (http://inatews.bmkg.go.id)
Jaringan GPS Geodetik dan TG (Tide Gauge) yang terpasang di seluruh Indonesia di kontrol dan dipelihara oleh Bakosurtanal. Bakosurtanal berencana memasang 40 sensor GPS Geodetik dan 80 Sensor Tide Gauge namun sampai saat belum sampai target tersebut. GPS Geodetik yang terpasang tersebut akan mampu memantau pergerakan lempengn bumi. Data arah pergerakan dan nilai pergerakan lempeng bumi tersebut sangat perlu untuk memperkirakan kawasan-kawasan yang berpotensi gempa bumi di masa yang akan datang.
Pada link ini https://www.ibnurusydy.com/aplikasi-gps-untuk-mitigasi-gempabumi/ saya sudah pernah menjelaskan bagaiamana GPS Geodetik ini digunakan untuk tujuan mitigasi gempa bumi. Jadi bagi pembaca yang mau tahu lebih lanjut, tinggal klik link tersebut.
Untuk TG sendiri digunakan untuk memonitor pasang-surut air laut. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi surutnya air laut setelah gempa bumi terjadi yang menandakan adanya potensi tsunami. Alat GPS dan TD yang terpasang di seluruh Indonesia ini mengirim data secara realtime ke kantor pusat menggunakan jalur komunikasi VSAT IP.
Buoy untuk memantau tsunami
Pada akhir tahun 2005, BPPT (Badan P bekerjasama dengan Geomar German melalui proyek GITEWS telah memasang 2 buah Buoys di samudra Hindia untuk memantau tsunami yang mungkin akan di terjadi di kawasan tersebut di masa yang akan datang. Namun berselang beberapa bulan setelah pemasangan, Buoy tersebut berpindah tempat karena rantai pengikat antara Buoys dengan beban yang diletakkan di dasar laut putus.
Saat ini di seluruh Indonesia, terdapat beberapa Buoy yang dipasang dan dikelola oleh BPPT dari Indonesia, GITEWS German, WaveScan Malaysia, dan DART Buoy punya US yang dikelola oleh oleh NOAA.
Dalam artikel di link ini https://www.ibnurusydy.com/pemantauan-gelombang-tsunami/ saya pernah menjelaskan dengan detail bagaimana Buoy yang dipasang tersebut memantau gelombang tsunami dan apa saja sensor yang dipasang di alat Buoy tersebut.
Jaringan Buoy Yang Dipasang di Seluruh Indonesia
Sistem Komunikasi yang digunakan untuk mendukung pengiriman data dari sensor ke kantor pusat (http://inatews.bmkg.go.id)
Semua peralatan yang dipasang di darat dan di laut sebagai yang dijelaskan di atas harus mengirimkan data ke kantor pusat melalui sebuah sistem komunikasi yang handal. Sistem komunikasi InaTEWS ini menggunakan sistem komunikasi satelit dengan sistem VSAT. Untuk data seismik sistem komunikasi menggunakan 3 tipe VSAT, yaitu: System LIBRA, System Reftec, dan System Provider. Beberapa stasiun tide gauges dan GPS akan menggunakan komunikasi VSAT juga, tetapi untuk buoys akan digunakan komunikasi berbasis satelit dengan tipe yang lain.
Dalam sistem InaTEWS tersebut, ada 3 sistem yang utama yang diperlukan agar sistem peringatan dini Indonesia ini berjalan sesuai dengan standar peringatan dini tsunami. Yang pertama adalah sistem pemantauan darat dan laut yang terdiri dari seismograph, GPS (global Positioning System), accelerometer, Buoy, Tide Gauge, dan CCTV. Yang kedua adalah sistem pengolahan data untuk data kegempaan bisa dilakukan di 10 kantor regional dan 1 kantor Nasional dan kantor untuk pengolahan data Tide Gauge, GPS, dan Buoys masing-masingnya 1 kantor Nasional. Sistem yang ketiga ada sistem komunikasi yang melibatkan pengumpulan data dan penyebaran informasi kepada masyarakat umum. ilustrasi Sistem-sistem terkait peringantan dini tsunami ini dapat dilihat pada gambar di bawah kanan.
Alur Data InaTEWS (Sumber: http://inatews.bmkg.go.id)
Pada gambar jelas terlihat bahwa di darat dan laut telah dipasang beberapa sensor yang berfungsi untuk mengumpul data gempa bumi, mengamati pergerakan lempeng, dan sensor pengamatan tsunami. Kesemua sensor tersebut dikelola oleh instansi-instansi teknik yang berkompeten di bidangnya. Tahap selanjutnya adalah penyebaran informasi tersebut kepada masyarakat yang juga melibatkan instansi pemerintah dan pihak swasta.
Semua kompoten peringatan ini sudah sangat bagus, artinya secara struktural kita sudah sangat siap. Bagaimana dengan kesiapan non-struktural yang melibatkan masyarakat langsung? akan kah masyarakat kita sudah bijak dalam merespon setiap peringatan? atau malah panik?. Saya yakin pertanyaan ini akan terjawab sendiri dengan program-program penguatan kapasitas masyarakat dan pegawai pemerintah dalam hal pengurangan resiko bencana.
Semoga artikel tentang Mengenal Komponen Peringatan Dini Tsunami Indonesia ini bermanfaat dan menambah pemahaman ilmu bencana alam bagi kita.
Gempa bumi dangkal yang bersumber dari patahan di darat kembali terjadi di Myanmar pada tanggal…
Pada tanggal 28 Maret 2025, sebuah gempa bumi yang bersumber dari patahan dangkal di darat…
Sebagai sebuah negara yang berada di posisi "ring of fire" kesiapsiagaan kita menghadapi bencana gempa…
Beberapa objek yang digunakan oleh peneliti untuk mempelajari iklim masa lalu (purba), Sumber gambar dari…
Menurut para geologist, bumi tempat kita tinggal telah berumus 4,56 milyar tahun. Dalam perkembangannya, bumi…
Sebagai negara yang beriklim tropis, kita memiliki intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Intensitas curah…
View Comments
Saya sedikit skeptis dengan peralatan yang telah anda jelaskan diatas. Karena belum ada satupun kejadian tsunami yang bisa diantisipasi dengan menggunakan peralatan yang anda katakan “sudah sangat siap”. Dalam kenyataannya peringatan tsunami sampai saat ini masih menggunakan sistem pemodelan yang ternyata kurang efektif. Kejadian tsunami Mentawai 2010 dan tsunami Donggala 2018 ini membuktikan bahwa tsunami datang setelah peringatan dini tsunami dicabut. Bagaimana anda menjelaskan fenomena ini. Terima kasih
Terima kasih komentarnya pak, secara insfrastruktur kita cukup ada dan dibeberapa negara alat2 tersebut cukup terbukti menyelamatkan banyak jiwa. Selain ada alat dan pelengkapnya (infrastruktur), kita juga punya manusia (kultur) yang harus terus dikuatkan agar makin siap menghadapi bencana.