Gunung api

Apakah Gunung api itu?

Gunung api adalah lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma atau gas atau cairan lainnya ke permukaan bumi. Material yang dierupsikan ke permukaan bumi umumnya membentuk kerucut terpancung.

Klasifikasi Gunung api

Tipe A Gunung api yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600
Tipe B Gunung api yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.
Tipe C Gunung api yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.

Jumlah dan Sebaran Gunungapi di Indonesia

Bentuk Gunung api

Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas:

  • Kerucut

Dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya.

  • Kubah

Dibentuk oleh terobosan lava di kawah, membentuk seperti kubah.

  • Kerucut Sinder

Dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria.

  • Maar

Biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau freatomagmatik.

  • Plateau

Dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.

Penampang Suatu Gunungapi dan Bagian-bagiannya
[Sumber: Krafft (1989) dengan modifikasi]

Struktur gunungapi terdiri dari:
(1) struktur kawah; merupakan bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu gunungapi, dimana bentuknya relatif bundar.
(2) kaldera; bentuk morfologinya seperti kawah, tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km. Kaldera terdiri dari kaldera letusan (terjadi akibat letusan besar yang melontarkan sebagian besar tubuhnya), kaldera runtuhan (terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh gunungapi akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma), kaldera resurgent (terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunungapi, diikuti dengan runtuhnya blok bagian tengah), dan kaldera erosi (terjadi akibat erosi terus-menerus pada dinding kawah, hingga melebar menjadi kaldera).
(3) rekahan dan graben; merupakan retakan-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan paralel yang mengakibatkan amblasnya blok diantara rekahan disebut graben.
(4) depresi volkano-tektonik; pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang berasosiasi dengan pembentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar magma asam ke permukaan, yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapai ukuran puluhan kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

Kapan Gunung api Terbentuk?

Gunungapi terbentuk sejak jutaan tahun yang lalu hingga sekarang. Pengetahuan tentang gunungapi berawal dari perilaku manusia dan manusia purba yang mempunyai hubungan dekat dengan gunungapi. Hal tersebut diketahui dari penemuan fosil manusia di dalam endapan vulkanik. Sebagian besar penemuan fosil tersebut ditemukan di Afrika dan Indonesia, berupa tulang belulang manusia, yang terkubur oleh endapan vulkanik. Sebagai contoh, banyak ditemukan kerangka manusia di kota Pompeii dan Herculanum, yang terkubur oleh endapan letusan G. Vesuvius pada tahun 79 Masehi. Fosil yang terawetkan baik pada abu vulkanik berupa tapak kaki manusia Australopithecus berumur 3,7 juta tahun di daerah Laetoli, Afrika Timur. Penanggalan fosil dari kerangka manusia tertua, Homo babilis, berdasarkan potassium-argon (K-Ar) didapatkan umur 1,75 juta tahun di daerah Olduvai. Penemuan fosil yang diduga sebagai manusia pemula Australopithecus afarensis berumur 3,5 juta tahun di Hadar, Ethiopia dan penanggalan umur benda purbakala tertua yang terbuat dari lava berumur 2,5 juta tahun, ditemukan di Danau Turkana, Afrika Timur. Perkembangan benda-benda purba dari yang sederhana kemudian meningkat menjadi benda-benda yang disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti pemotong, kapak tangan dan lainnya, terbuat dari obsidian yang berumur Paleolitik Atas.

Dimanakah Gunung api Terbentuk?

Gunungapi terbentuk pada empat busur, yaitu busur tengah benua (terbentuk akibat pemekaran kerak benua, busur tepi benua (terbentuk akibat penunjaman kerak samudara ke kerak benua), busur tengah samudera (terbentuk akibat pemekaran kerak samudera), dan busur dasar samudera (terbentuk akibat terobosan magma basa pada penipisan kerak samudera).

Mengapa Terbentuk Gunung api?

Pengetahuan tentang lempeng tektonik merupakan pemecahan awal dari teka-teki fenomena alam, termasuk deretan pegunungan, benua, gempa bumi, dan gunung api. Planet bumi mepunyai banyak cairan dan air di permukaan. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi pembentukan dan komposisi magma serta lokasi terbentuknya gunung api.

Panas bagian dalam bumi merupakan panas yang dibentuk selama pembentukan bumi—sekitar 4,5 miliar tahun lalu—bersamaan dengan panas yang timbul dari unsur radioaktif alami, seperti elemen-elemen isotop K, U, dan Th terhadap waktu. Bumi pada saat terbentuk lebih panas, namun kemudian berangsur mendingin, sesuai dengan perkembangan sejarahnya. Pendinginan tersebut terjadi akibat pelepasan panas dan intensitas vulkanisme di permukaan. Perambatan panas dari dalam bumi ke permukaan secara konveksi, dimana material-material yang terpanaskan pada dasar mantel berkedalaman 2.900 km di bawah muka bumi bergerak menyebar dan menyempit di sekitarnya. Pada bagian atas mantel, sekitar 7,35 km di bawah muka bumi, material-material tersebut mendingin dan menjadi padat, kemudian tenggelam lagi ke dalam aliran konveksi tersebut. Litosfir termasuk juga kerak pada umumnya, yang mempunyai ketebalan 70,120 km, terpecah menjadi beberapa fragmen besar yang dikenal sebagai lempeng tektonik. Lempeng bergerak satu sama lain dan juga menembus ke arah konveksi mantel. Bagian alas litosfir melengser di atas zona lemah bagian atas mantel, yang dikenal sebagai astenosfir. Bagian lemah astenosfir terjadi pada saat atau dekat suhu dimana mulai terjadi pelelehan, dan sebagai konsekuensinya beberapa bagian astenosfir melebur, meskipun sebagian besar masih padat. Kerak benua mempunyai ketebalan lebih kurang 35 km, berdensiti rendah dan berumur 1,2 miliar tahun. Kerak samudera lebih tipis, sekitar 7 km, lebih padat dan berumur tidak lebih dari 200 juta tahun. Kerak benua posisinya lebih atas daripada kerak samudera karena adanya perbedaan berat jenis. Keduanya mengapung di atas astenosfir.

Bagaimana Proses Pembentukan Gunung api?

Pergerakan antar lempeng menimbulkan empat busur gunungapi berbeda.

  • Pada pemekaran kerak benua, lempeng bergerak saling menjauh, sehingga memberikan kesempatan magma bergerak ke permukaan. Kemudian terbentuk busur gunungapi tengah samudera.
  • Pada saat terjadi tumbukan antar kerak, dimana kerak samudera menunjam di bawah kerak benua dan menimbulkan gesekan antarkerak, terjadilah peleburan batuan. Selanjutnya lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan membentuk busur gunungapi di tepi benua.
  • Kerak benua menjauh satu sama lain secara horizontal, sehingga menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan keluar lelehan batuan atau magma ke permukaan, sehingga terbentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan.
  • Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan kepada magma menerobos ke dasar samudera. Terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.

Bahaya Gunung api

Bahaya letusan gunungapi dapat berpengaruh secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder) bagi kehidupan manusia. Bahaya langsung akibat letusan gunungapi adalah:

1. Leleran lava
Leleran lava merupakan cairan lava yang pekat dan panas, dapat merusak segala infrastruktur yang dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magmanya, makin rendah kekentalannya, maka makin jauh jangkauan alirannya. Suhu lava pada saat dierupsikan berkisar antara 800 – 1.200 oC. Pada umumnya, leleran lava yang dierupsikan gunungapi di Indonesia, komposisi magmanya bersifat menengah. Pergerakannya cukup lamban, sehingga manusia dapat menghindarkan diri dari terjangannya.
2. Aliran piroklastik (awan panas)
Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava, dan aliran pada permukaan tanah (surge). Aliran piroklastik dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran mencapai 150-250 km/jam dengan jangkauan mencapai puluhan kilometer meskipun bergerak di atas air/laut.
3. Jatuhan piroklastik
Jatuhan piroklastik terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi. Pada saat energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah angin, kemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan merontokkan daun-daun dan pepohonan kecil, sehingga merusak agro dan pada ketebalan tertentu dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapat menggelapkan bumi beberapa saat, serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan.
4. Lahar letusan
Lahar letusan terjadi pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air alam kawah cukup besar akan menjadi ancaman langsung saat terjadi letusan dengan menumpahkan lumpur panas.
5. Gas vulkanik beracun
Gas beracun umumnya muncul pada gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S, SO2, dan lain-lain. Pada konsentrasi di atas ambang batas dapat membunuh.

Bahaya sekunder terjadi saat dan/atau setelah gunungapi aktif.

1. Lahar Hujan
Lahar hujan terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunungapi yang diendapkan pada puncak dan lereng, terangkut oleh hujan atau air permukaan. Aliran lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat, sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran. Bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 meter dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat merubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.
2. Banjir bandang
Banjir bandang terjadi akibat pelongsoran material vulkanik lama pada lereng gunungapi karena jenuh air atau curah hujan cukup tinggi. Aliran lumpur ini tidak begitu pekat seperti lahar, tetapi cukup membahayakan bagi penduduk yang bekerja di sungai, jika terjadi secara tiba-tiba.
3. Longsoran vulkanik
Longsoran vulkanik dapat terjadi akibat letusan gunungapi, eksplosi uap air, alterasi batuan pada tubuh gunungapi sehingga menjadi rapuh, atau terkena gempabumi berintensitas kuat. Longsoran vulkanik jarang terjadi pada gunungapi umum, sehingga dalam peta kawasan rawan bencana tidak mencantumkan bahaya akibat longsoran vulkanik ini.

Penanggulangan Bencana Letusan Gunung api

Dalam penanggulangan bencana letusan gunungapi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu persiapan sebelum terjadi letusan, saat terjadi letusan, dan sesudah terjadi letusan.
1. Sebelum terjadi letusan

  • Melakukan pemantauan dan pengamatan aktivitas semua gunungapi aktif.
  • Membuat dan menyediakan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Risiko Bahaya Gunungapi, yang didukung dengan dengan Peta Geologi Gunungapi.
  • Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunungapi.
  • Melakukan bimbingan dan pemberian informasi kegunungapian.
  • Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika, dan geokimia di gunungapi.
  • Melakukan peningkatan sumber daya manusia dan pendukungnya (sarana dan prasarana).

2. Saat terjadi letusan

  • Mengurangi aktivitas di luar rumah dan/atau menggunakan penutup hidung (masker), kaca mata, dan baju lengan panjang pada saat banyak abu vulkanik.
  • Jika sedang berada di lembah aliran sungai yang berhulu di puncak, segera mencari tempat yang lebih tinggi.
  • Jika harus mengungsi, ikutilah petunjuk/perintah dari pejabat yang berwenang. Mendahulukan kelompok rentan (bayi, orangtua, ibu hamil, anak-anak, dan orang yang memiliki keterbatasan) .
  • Membantu tim SAR, medis, dan kepolisian melakukan pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban cedera dan meninggal dunia.
  • Membantu penyiapan kebutuhan dasar bagi korban berupa: air bersih dan sanitasi, pangan, sandang, dan layanan kesehatan.
  • Membantu penyiapan posko lapangan beserta kelengkapannya.
  • Membantu perbaikan prasarana dan sarana umum yang terkena dampak bencana untuk mendukung kegiatan tanggap darurat.
  • Bersikap tenang dan tidak mempercayai isu/kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mengikuti petunjuk/perintah pejabat yang berwenang dan sering mendengarkan radio untuk memperoleh berita/informasi penting.

3. Setelah terjadi letusan

  • Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan.
  • Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya lanjutan.
  • Memberikan saran penanggulangan bahaya.
  • Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang.
  • Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak.
  • Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun.
  • Melanjutkan pemantauan rutin.

Klasifikasi Gunung api di Indonesia

Gunungapi diklasifikasikan ke dalam empat sumber erupsi, yaitu:
1. Erupsi Pusat
Erupsi keluar melalui kawah utama.
2. Erupsi Samping
Erupsi keluar dari lereng tubuhnya.
3. Erupsi Celah
Erupsi yang muncul pada retakan/sesar, dapat memanjang sampai beberapa kilometer.
4. Erupsi Eksentrik
Erupsi samping tetapi magma yang keluar bukan dari kepundan pusat yang menyimpang ke samping, melainkan langsung dari dapur magma melalui kepundan tersendiri.
Berdasarkan tinggi-rendahnya derajat fragmentasi dan luasan, juga kuat-lemahnya letusan serta tinggi tiang asap, maka gunungapi dibagi menjadi beberapa tipe erupsi, yaitu:
Tipe Hawaiian
Erupsi eksplosif dari magma basaltik atau mendekati basal. Pada umumnya berupa semburan lava pijar dan sering diikuti leleran lava secara simultan, yang terjadi pada celah atau kepundan sederhana.
Tipe Strombolian
Erupsinya hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal. Pada umumnya terjadi pada gunungapi aktif di tepi benua atau di tengah benua.
Tipe Plinian
Erupsi sangat ekslposif dari magma berviskositas tinggi atau magma asam, dimana komposisi magma bersifat andesitik sampai riolitik. Material yang dierupsikan berupa batuapung dalam jumlah besar.
Tipe Sub-Plinian
Erupsi eksplosif dari magma asam (riolitik) dari gunungapi strato. Tahap erupsi efusifnya menghasilkan kubah lava riolitik. Erupsi sub-plinian dapat menghasilkan pembentukan ignimbrit.
Tipe Ultra-Plinian
Erupsi sangat eksplosif menghasilkan endapan batuapung lebih banyak dan lebih luas daripada Plinian biasa.
Tipe Vulkanian
erupsi magmatis berkomposisi andesit basaltik sampai dasit. Pada umumnya melontarkan bom-bom vulkanik atau bongkahan di sekitar kawah dan seringkali disertai bom kerak-roti atau permukaannya retak-retak. Material yang dierupsikan tidak hanya selalu berasal dari magma, tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik.
Tipe Surtseyan dan Tipe Freatoplinian
kedua tipe ini merupakan erupsi yang terjadi pada pulau gunungapi, gunungapi bawah laut, atau gunungapi yang berdanau kawah. Surtseyan merupakan erupsi interaksi antara magma basaltik dengan air permukaan atau bawah permukaan. Letusannya disebut freatomagmatik. Tipe freatoplinian mempunyai proses kejadian yang sama dengan Surtseyan, namun magma yang berinteraksi dengan air berkomposisi riolitik.

Prosedur Tetap Tingkat Kegiatan Gunung api

Aktif Normal (Level I) Kegiatan gunungapi berdasarkan pengamatan dari hasil visual, kegempaan, dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan.
Waspada (Level II) Terjadi peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual, atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan, dan gejala vulkanik lainnya.
Siaga (Level III) Peningkatan semakin nyata hasil pengamatan visual (pemeriksaan kawah), kegempaan, dan metoda lain saling mendukung. Berdasarkan analisa, perubahan aktivitas cenderung diikuti terjadinya letusan.
Awas (Level IV) Menjelang letusan utama, letusan awal dimulai dengan keluarnya abu/asap. Berdasarkan analisa data pengamatan, segera akan diikuti terjadinya letusan utama.

Model rumah yang disarankan untuk daerah di sekitar gunungapi agar terhindar dari beban endapan abu gunungapi.
• Kemiringan atap ? 45o.
• Tiang penopang atap lebih rapat, dibantu dengan tiang diagonal.
• Atap (dianjurkan) terbuat dari seng agar tahan terhadap panas lontaran batu pijar.

Sumber: http://piba.tdmrc.org

Bagikan ke Kawan-Kawan Anda..!!!

[sgmb id=1]

Baca juga artikel lain yang terkait Gunung Api