Dasar pemikiran untuk melakukan identifikasi korban bencana berdasarkan pada sidik jari karena tidak satu manusiapun di bumi ini yang memiliki bentuk sidik jari yang sama. Namun penggunaan sidik jari untuk identifikasi korban bencana bisa dilakukan untuk korban-korban bencana yang masih baru ditemukan atau dalam kondisi sidik jarinya masih utuh dan bisa diidentifikasi. Metode ini bisa dilakukan apabila korban bencana alam tersebut memiliki data medis sebelumnya atau lebih dikenal dengan istilah Ante mortem.
Ciri fisik atau dikenal dengan istilah Anthropometri ini berupa ciri khas yang dimiliki oleh korban bencana. Misalnya saja korban bencana tersebut memiliki tanda lahir, tahi lalat, bekas luka akibat operasi atau kecelakaan sebelumnya, tatto dan bentuk ciri fisik lainnya. Dengan mencocokkan ciri fisik ini bisa didapatkan dari keluarga korban atau teman korban. Dengan mencocokkan data ciri fisik ini, mudah-mudahan korban bencana tersebut dapat diketahui identitasnya.
Cara yang ketika untuk identifikasi korban bencana alam adalah dengan melihat bentuk gigi atau forensik gigi. Metode ini digunakan untuk korban yang sudah sudah dikenali. misalnya korban pesawat AirAsia QZ8501 yang ditemukan telambat dan kondisi fisiknya sudah rusak. Forensik gigi ini bisa diterapkan apabila ada Ante Mortem sebelumnya dari rontgen atau informasi dari keluarga yang menyatakan bahwa korban tersebut menggunakan gigi palsu atau lain sebagainya.
Metode Citra Rontgen bisa dilakukan untuk identifikasi korban bencana apabila korban bencana tersebut memiliki data citra rontgen sebelum menjadi korban. Metode ini digunakan untuk korban yang tidak bisa lagi dikenali dari wajah dan kulitnya atau sudah lama rusak bagian kulitnya. Contoh data rontgen ini adalah bekas patah tulang atau perubahan tulang lainnya yang dimiliki oleh korban. namun sering kali metode ini kurang bisa diterapkan karena tidak semua korban memiliki data rontgen ini, kalaupun ada kebanyakkan tidak tersimpan dengan baik.
Metode jari genetikan atau DNA adalah metode yang paling populer saat ini. Sebelum menerapkan metode ini, para ahli forensik akan mengambil DNA keluarga korban yang nantinya akan dicocok dengan korban bencana alam tersebut. Metode ini sangat akurat namun memerlukan waktu yang lama dan biaya agak besar dibandingkan dengan metode yang lain.
Semoga artikel tentang cara identifikasi korban bencana ini bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua.
Wassalam,
Gempa bumi dangkal yang bersumber dari patahan di darat kembali terjadi di Myanmar pada tanggal…
Pada tanggal 28 Maret 2025, sebuah gempa bumi yang bersumber dari patahan dangkal di darat…
Sebagai sebuah negara yang berada di posisi "ring of fire" kesiapsiagaan kita menghadapi bencana gempa…
Beberapa objek yang digunakan oleh peneliti untuk mempelajari iklim masa lalu (purba), Sumber gambar dari…
Menurut para geologist, bumi tempat kita tinggal telah berumus 4,56 milyar tahun. Dalam perkembangannya, bumi…
Sebagai negara yang beriklim tropis, kita memiliki intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Intensitas curah…
Leave a Comment