Gelombang tsunami konon katanya berbeda dengan gelombang laut biasa. Ketika berada di laut dalam, gelombang tsunami memiliki kecepatan sama kecepatan pesawat terbang atau sekitar 800 km/jam dan panjang gelombang yang sangat panjang tapi memiliki tinggi gelombang (amplitudo) yang sangat rendah. Saat ini ada alat untuk mengamati perubahan gelombang laut atau gelombang tsunami yang dikenal dengan nama Buoy. Buoy ini diampungkan di tengah laut untuk mengamati perubahan tinggi rendah permukaan air laut.
Untuk bisa mengamati perubahan tinggi-rendah gelombang laut atau gelombang tsunami maka pada alat Buoy tersebut harus dipasang GPS geodetik yang memiliki akurasi dalam orde centimeter atau milimeter. GPS reseiver yang dipasang di sebuah Buoy secara terus-menerus harus menerima koordinat dalam lintang, bujur dan ketinggian. Namun karena alat Buoy ini dipasang di tengah laut sana dan antena GPS-nya juga sering miring, maka ada beberapa peralatan lain yang harus dipasang untuk menunjang kerja koreksi data GPS supaya bisa mendapatkan ketelitian dalam orde milimeter. Peralatan penunjang lain yang harus dipasang untuk bisa mengukur gelombang tsunami di Bouy antara lain;
Gambar 1. Sebaran Buoy di seluruh dunia (sumber: www.ndbc.noaa.gov)
Setelah Tsunami Aceh terjadi, masyarakat dunia mulai sadarkan pentingnya upaya memantau gelombang tsunami. Berdasarkan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) US, saat ini ada sekitar 1.153 buah Buoy telah dipasang seluruh dunia, sampai tulisan ini dituliskan, ada 924 buah Buoy yang masih akfif mengirim data ketinggian gelombang ke pusat pengendali. Pada gambar 1 dapat dilihat sebaran Bouy seluruh dunia. Titik warna kuning menunjukkan Buoy yang masih aktif dalam 8 Jam terakhir dan titik warna merah merupakan Bouy yang sudah tidak akfif lagi.
Gempa 11 April 2012 di sebelah Setatan kepulauan Simeulue memicu tsunami kecil di beberapa kepulauan terdekat dengan sumber gempa. Gelombang tsunami ini terekam oleh Bouy punya-nya NOAA – US yang dipasang di samudra Hindia seperti yang terlihat pada gambar 2 di bawah ini.
Gambar 2. Gambaran Pasut air laut oleh Buoy milik NOAA (sumber: Syamsidik/TDMRC, 2012)
Pada Buoy A (phuket) dan B (Bengali) milik NOAA terlihat sekali adanya kenaikan air laut atau gelombang tsunami akibat gempa tanggal 11 April 2012. Data Buoy miliknya NOAA ini dapat diakses oleh umum sehingga siapa saja boleh mengambil dan melihat data perubahan air laut atau pasut (pasang-surut) dari Bouy NOAA.
Semoga bermanfaat dan kita makin memahami cara mengamati gelombang tsunami bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang Bencana Alam
Gempa bumi dangkal yang bersumber dari patahan di darat kembali terjadi di Myanmar pada tanggal…
Pada tanggal 28 Maret 2025, sebuah gempa bumi yang bersumber dari patahan dangkal di darat…
Sebagai sebuah negara yang berada di posisi "ring of fire" kesiapsiagaan kita menghadapi bencana gempa…
Beberapa objek yang digunakan oleh peneliti untuk mempelajari iklim masa lalu (purba), Sumber gambar dari…
Menurut para geologist, bumi tempat kita tinggal telah berumus 4,56 milyar tahun. Dalam perkembangannya, bumi…
Sebagai negara yang beriklim tropis, kita memiliki intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Intensitas curah…
Leave a Comment