Beberapa kota besar di negara Jepang mengalami amblesan tanah. Menurut Environment Protection Agency of Japan tahun 1995, terdapat 11 kawasan yang mengalami penurunan dengan kecepatan 20 mm/tahun seluas 276 Km2 (Soki Yamamoto, 1995).
Pada tahun 1959 dan 1962 pemerintah Jepang membuat peraturan penggunaan air tanah untuk Industri dan untuk bangunan dalam upaya pengurangan risiko bencana amblesan tanah. Sebuah lembaga yang bernama Environment Protection Agency of Japan juga dibentuk untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut. Beberapa kebijakan tersebut cukup membuahkan hasil dan pada kurva disamping bisa dilihat adanya pengurangan nilai penurunan sejak tahun 1960-an dan malahan di kota Tokyo terjadi re-bound aquifer karena jumlah air yang terisi lebih banyak daripada jumlah yang diambil.
Selain karena konsolidasi lapisan sedimen, ternyata amblesan kota Venisia sangat di pengaruhi oleh gaya-gaya tektonik. Lapisan sedimen yang terisi di dalam cekungan foreland yang aktif bergerak karena dibantu oleh lempeng Adriatic yang menunjam (subduksi) di bawah cekungan tersebut. Pada gambar di atas bisa dilihat tatanan tektonik dan laju penurunan yang sangat tinggi di tengah-tengah cekungan, sehingga sangat wajar apabila banyak gedung-gedung tinggi di kota Venisia mengalami kemiringan. Pengaruh tektonic ini sudah ada dari sejak zaman dahulu namun sebelum tahun 2000 diperparah lagi oleh pengambilan air tanah yang berlebihan.
Kota Meksiko yang berdiri di atas tanah sedimen muda dan pengambilan air tanah yang terus-menerus dalam jumlah banyak membuat kota tersebut terus ambles/turun. Nilai amblesan tersebut makin hari makin tinggi dan Batuhan Osmanoglu dari Geologi Laut dan Geofisika Universitas Miami dan kawan-kawannya dari Jurusan Geomagnetic dan Ekplorasi Institut Geofisika Universitas Nasional Autónoma México (Ciudad Universitaria, México) mencatat antara tahun 2004 sampai dengan 2006, telah terjadi amblesan di bagian timur kota Meksiko sebesar 30 cm/tahun.
Tamat…….!!!!
Bacaan Sebelumnya:
Gempa bumi dangkal yang bersumber dari patahan di darat kembali terjadi di Myanmar pada tanggal…
Pada tanggal 28 Maret 2025, sebuah gempa bumi yang bersumber dari patahan dangkal di darat…
Sebagai sebuah negara yang berada di posisi "ring of fire" kesiapsiagaan kita menghadapi bencana gempa…
Beberapa objek yang digunakan oleh peneliti untuk mempelajari iklim masa lalu (purba), Sumber gambar dari…
Menurut para geologist, bumi tempat kita tinggal telah berumus 4,56 milyar tahun. Dalam perkembangannya, bumi…
Sebagai negara yang beriklim tropis, kita memiliki intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Intensitas curah…
View Comments
Kalau melihat penurunan tanah yg berhenti sejak tahun 60 di china dan Jepang ini apakah karena tektoniknya menjadi pasif sejak tahun itu ?
Tektonik tidak pasif pak, namun apa yang mereka lakukan dengan menerapkan kebijakan sumur bor dibawah pengawasan negara sangat efektif mengurangi subsidence. Berkurangnya pengambilan air tanah dan banyak air yang kembali masuk ke aquifer berkat sumur resapan menyebabkan aquifernya tidak lagi terdeformasi dan tidak turun lagi. Malah banyaknya air yang masuk masuk bisa membuat efek "aquifer rebound", efek ini akan menyebabkan kenaikan permukaan tanah, atau malah kembali ke posisi awal. Pada grafik/gambar pertama terlihat jelas di kota Tokyo setelah tahun 1960 mengalami sedikit kenaikan.