Kota-Kota Yang Sedang Tenggelam (II)

Jakarta yang terus bergerak secara vertikal, pergerakkannya yang perlahan tapi pasti membuat kita risau dan mengharapkan pemerintah segera mencari solusinya. Namun demikian, ternyata Jakarta tenggelam tidak sendiri, masih ada Ibu kota negara lain yang juga mengalami fenomena yang hampir sama dengan Jakarta.

Subsidence Di Bangkok

Kota Bangkok yang menjadi ibu kota negara Thailand dibangun di atas lapisan sedimen delta laut dan sungai yang datar dan memiliki tinggi antara 0,5 – 1,5 meter dari atas permukaan laut. Sekarang ini, Bangkok mengalami fenomena amblesan tanah (subsidence) yang sama dengan Jakarta. Pengambilan air bawah tanah (ground water) secara besar-besar selama 2 dekade terakhir ini menjadi penyebab utama terjadinya subsidence. Lebih dari 30% air yang konsumsi oleh warga kota Bangkok berasal dari ground water. Pada tahun 1982 saja, penduduk kota Bangkok mengkonsumsi lebih dari 1,35 Juta kubik air sehari dari lebih 11 ribu sumur bor (P. Nutalaya et al,1984).

penurunan tanahLaju penurunan tanah di kota Bangkok sekitar 2 – 5 cm/tahun dan saat ini ada kawasan Selatan kota Bangkok yang dekat laut sudah berada di bawah permukaan laut sedalam -0,5 meter. Penurunan tanah ini juga mengakibatkan kota Bangkok sering mengalami banjir rob seperti Jakarta. Kejadian ini mengharuskan pihak terkait di Bangkok melakukan upaya-upaya mitigasi penurunan tanah ini. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah memperbaiki sistem pipa air (PDAM di Indonesia) sehingga suplainya maksimal dan masyarakat tidak perlu mengambil ground water. Hal lain yang juga dilakukan adalah memperbanyak sumur pengamatan (monitoring well). Saat ini sudah ada lebih 521 sumur pengamatan untuk mengamati muka air tanah di sekitar kota Bangkok.

Lembah Taipei yang Turun-Naik

penurunan tanahSubsidence sudah terjadi sejak pertengahan tahun 1950-an di kota Taipei yang menjadi ibu kota Taiwan. Penyebab utama terjadinya subsidence di Taipei adalah pengambilan air tanah secara besar-besaran sehingga menyebabkan deformasi di lapisan aquifer, pemadatan tanah dangkal, dan pergerakan tektonik. Penurunan tanah karena pemadatan lapisan tanah yang dangkal sekitar 1-8 mm/tahun dan penurunan karena pergerakan tektonik sekitar 1,75 mm/tahun di bagian barat dan 0,9 mm/tahun di tengah lembah Taipei. Pergerakan secara tektonik ini sangat dipengaruhi oleh gerakan sesar Shanchiao, sesar Taipei dan sesar Kanjiao (C.-T. Chen et al, 2007).

Kondisi batuan pembentuk lembah ini yang sedimen muda (holocen) menjadikan tanah pembentuk lembah ini belum padat dan sangat mudah untuk ambles. Kondisi kota Taipei hampir sama dengan kondisi kota Jakarta dan Kota Banda Aceh tempat penulis tinggal. Namun ada hal yang membuat beda, laju bencana alam subsidence kian tahun kian berkurang dan ada bagian yang naik dan turun. Pada periode tahun 1975–1980 di lembah Taipei terjadi penurunan sekitar 70 mm/tahun, tahun 1980–1985 sekitar 12 mm/tahun dan pada tahun 1985-1989 malah ada beberapa bagian dari lembah Taipei ada yang naik terlebih di bagian tengah dan selatan karena pengaruh tektonik. Namun sejak 1989 sampai 1994, dibagian tengah lembah Taipei masih naik sampai 15 mm/tahun namun dibagian barat masih turun. Tahun 1994-1996 kemudian terjadi penurunan lagi di bagian barat dan sampai tahun 2000, bagian barat dan utara lembah Taipei masih turun sekitar 14 mm/tahun (C.-T. Chen et al, 2007).

Bersambung….=>

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.

One Response

  1. author

    Shaik2 years ago

Leave a Reply