Fakta Ilmiah Tsunami Palu: Jejak Longsor di Dasar Laut Palu

Gempa dan Tsunami telah melanda Palu dan Donggala pada tanggal 28 September 2018. Gempa bumi dengan magnitudo Mw 7,5 pada kedalaman 10 Km telah memicu banyak sekali bencana ikutan, seperti Tsunami, Liquifaksi, dan Tanah Lonsor.

Tsunami yang terjadi di Kota Palu dan Donggala tergolong unik. 4 menit setelah gempa bumi terjadi, tsunami langsung menerjang Kota Palu dan Donggala.

Baca: Mengungkap Misteri Penyebab Tsunami Palu

Teluk Palu , Lokasi kota Palu dan Dongala

Teluk Palu , Lokasi kota Palu dan Dongala (Sumber: BBC dari BMKG))

4 menit merupakan waktu yang sangat cepat, dan membuat semua peneliti di seluruh dunia terkejut.

Beberapa peneliti sudah menduga bahwa tsunami yang melanda Kota Palu dan Donggala disebabkan oleh longsoran dasar laut.

Dugaan tersebut didasarkan pada fakta geologi bahwa patahan Palu Koro yang menjadi sumber gempa bumi tersebut adalah patahan geser kiri.

Patahan/Sesar geser tidak akan menimbulkan tsunami, kecuali ada faktor lain yang memicu tsunami seperti longsor bawah laut.

Baca: Patahan Palu-Koro yang Menerus ke Laut dan Memicu Tsunami

Dugaan longsor bawah laut pernah saya tuliskan pada artikel “Mengukap Misteri Penyebab Tsunami Palu“.

Pada artikel tersebut saya paparkan beberapa fakta berupa video dari Pilot Lion Air dan video dari warga yang sedang di laut yang menunjukkan dugaan longsoran bawah laut.

Hipotesa di atas masih berupa dugaan dan belum terbukti karena belum ada data kondisi bawah laut teluk Palu yang akurat.

Untuk membuktikan hipotesa tersebut, survey Bathimetri perlu dilakukan.

Survei Bathimetri Teluk Palu

Beberapa hari setelah gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan Donggala, Tim BPPT yang terdiri dari ahli Geologi, Geodesi, Kelautan maupun Kebencanaan melakukan survei Bathimetri di Teluk Palu.

kapal Baruna Jaya I BPPT

kapal Baruna Jaya I BPPT yang digunakan untuk mengukur Bathimetri Teluk Palu (Sumber: website BPPT)

Batrimetri adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai samudra atau danau.

Umumnya, informasi bathimetri menampilkan relief lantai atau dataran bawah air dengan garis-garis kontur (contour lines).

Survei Bathimetri dilakukan menggunakan Kapal Baruna Jaya I BPPT yang telah dilengkapi dengan peralatan canggih seperti perangkat Multibeam Echosounder. Alat ini digunakan untuk menentukan profil permukaan dasar laut dan kedalaman air dengan cakupan area dasar laut yang luas.

Hasil Bathimetri Teluk Palu

Setelah melakuan survey selama beberapa minggu, akhirnya tim BPPT berhasil membuat peta Bathimetri bawah laut teluk Palu.

Seperti apa kondisi bawah laut teluk palu, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Bathimetri teluk Palu

Bathimetri teluk Palu yang diukur oleh Tim BPPT

Hasil pemetaan tersebut juga mengungkapkan fakta ilmiah kawasan-kawasan longsor bawah laut yang menjadi penyebab tsunami palu dan jejak patahan Palu Koro.

Baca: Daratan Sulawesi Tengah yang Bergeser Setelah Gempa Bumi

Selain memetakan kondisi bawah laut Teluk Palu, Tim BPPT juga melakukan perbandingan bathimetri bawah laut teluk Palu sebelum gempa bumi dan setelah gempa bumi terjadi.

Hasil perbandingan tersebut menunjukkan ada beberapa kawasan di bawah laut teluk Palu yang mengalami penurunan sebagaimana ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

Longsor bawah laut palu

Kawasan-kawasan yang mengalami penurunan yang menjadi dugaan lokasi longsor bawah laut di Teluk Palu (Sumber: BPPT)

Penurunan dasar laut ini menjadi indikasi kawasan-kawasan yang longsor dan memicu tsunami Palu dan Donggala.

Pada gambar di atas dapat dilihat, banyak sekali lokasi longsor bawah laut yang menjadi sumber tsunami. Beberapa longsor bawah laut juga terjadi di kawasan dekat pantai sehingga sangat wajar apabila tsunaminya datang 4 menit setelah gempa bumi terjadi.

Semoga artikel tentang Jejak Longsor di Dasar Laut Palu ini bermanfaat dan menjawab penyebab tsunami Palu dan Donggala.

Salam Siaga,

Melek Bencana

 

Tags:
author

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.

Leave a Reply