Penyebab Gempa Banten 2 Agustus 2019: Sebuah Analisis Awal

Pada tanggal 2 Agustus 2019 pukul 19:03 wib negara kita kembali diguncang gempa kuat.

Menurut BKMG, gempa yang terjadi pada episenter 7.54° LS 104.58° BT pada kedalaman 10 Km dengan magnitudo Mw 7,4 namun terakhir dimutakhirkan menjadi Mw 6,9.

Namun USGS mencatat gempa tersebut berada pada episenter 7.267° LS 104.825° BT pada kedalaman 52,8 Km dan Geoscope IPGP pada kedalaman 43 Km

Baca: Belajar Dari Youtube (Gempa Bumi)

Gambar 1. Sumber gempa Banten 2 Agustus 2019 menurut BMKG, titik merah merupakan episenter gempa bumi

Pada gambar 1 dapat dilihat bawah episenter gempa berada di kerak Eurasia tepat dimana indonesia berada.

Beberapa saat setelah gempa bumi terjadi, beberapa lembaga dunia yang mengamati gempa bumi di seluruh dunia, mengeluarkan model mekanisme fokal sumber gempa untuk menjawab penyebab gempa Banten tersebut.

Mekanisme Sumber Gempa Banten 2019

Beberapa lembaga seperti USGS, GFZ Jerman, dan IPGP Prancis mengeluarkan mekanisme fokal gempa Banten berupa Moment Tensor.

Gambar 2. Episenter gempa bumi dan mekanisme fokal sumber gempa berupa patahan naik miring dan fungsi waktu sumber gempa (Sumber: IPGP)

Pada gambar 2 dapat dilihat mekanisme fokalnya.

Mekanisme fokal gempa Banten 2019 tersebut berupa patahan naik namun miring (oblique thrust fault).

Oblique dalam bahasa indonesia berarti miring miliki makna bahwa patahan yang menjadi sumber gempa Banten 2019 tidak murni naik vertikal namun ada unsur mengeser.

Mengeser ke kiri atau kekanan? Bisa dijawab dengan cara melihat tatanan tektonik di zona sumber gempa tersebut.

Pada mekanisme fokal sendiri sebenarnya memberikan informasi 2 bidang patahan yang bertanggung jawab pada gempa Banten 2019 (lihat gambar 3).

Patahan naik miring mengiri (plane 1) atau patahan naik miring menganan (plane 2). Untuk lebih detailnya, perhatikan gambar 3.

Bidang patahan 1 memiliki arah jurus 207° dari utara dengan kemiringan 45° dari bidang horizontal dengan mekanisme patahan naik miring mengiri.

Sedangkan bidang patahan 2 memiliki arah jurus 68° dari utara dan kemiringan 53° dengan mekanisme patahan naik miring menganan.

Bidang patahan 2 memiliki jurus yang hampir sama dengan patahan Cimandiri. Namun patahan Cimandiri merupakan patahan pola geser mengiri.

Gambar 3. Ilustrasi 2 bidang patahan (fault plane) hasil pembacaan mekamisme fokal gempa Banteng 2 Agustus 2019. (Sumber: IPGP Prancis)

Walaupun bidang patahan 2 searah dengan patahan Cimandiri, namun mereka memiliki arah geser yang berbeda, artinya bidang patahan 2 bukan merupakan sumber gempa Banten 2019.

Bidang patahan 1 kemungkinan besar bertanggung jawab kejadian gempa Banten 2019. Hal ini dikarenakan Pada bidang patahan 1 (lihat gambar 3), blok bagian atas bergerak ke arah tenggara selatan dan blok bawah bergerak ke barat laut utara.

Arah pergerakan blok ini hampir sama dengan arah pergerakan lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.

Namun demikian, ini hanya dugaan awal saja, apabila melihat kedalaman gempa bumi tersebut (52,8 Km menurut USGS dan 43 menurut IPGP), kemungkinan besar gempa tersebut bersumber dari patahan di dalam kerak samudra (Intra-slab).

Perhatikan Gambar 2 yang menunjukkan lokasi episenter pada kedalaman 43 Km namun kedalaman subduksi di episenter gempa adalah 20 Km.

Keunikan Gempa bumi Intra-Slab

Menurut Kaye M. Shedlock (2007), Gempa Intra-Slab atau Intra-plate sangat jarang terjadi dan hanya 10% dari keseluruhan gempa bumi yang pernah terjadi di dunia ini. Gempa bumi ini memiliki ciri khas antara lain;

  1. Waktu perulangan gempanya lebih lama.
  2. Jarang sekali menyebabkan rekahan/retakan di atas permukaan tanah.
  3. Tekanan yang terakumulasi sekian lama akan lebih banyak terlepaskan.
  4. Goncangan tanah yang lama karena gelombang gempa Intra-slab menghilang lebih lama.
  5. Dan lain-lain.

Semoga artikel tentang penyebab gempa Banten 2019 ini bermanfaat dan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca setia blog Melek Bencana.

You need to enable JavaScript to vote
Tags:

Author: 

Saya Ibnu Rusydy, Pecinta, pelajar dan pengajar Ilmu Kebumian yang lahir di Aceh-Indonesia. Saat ini saya tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Komisaris Wilayah Aceh (id: IBN-RUSYD-150) dan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengurus Daerah Aceh (Npa: 4658). Apabila menyukai artikel yang saya tulis, silahkan sebarkan ke kawan-kawan anda.

Leave a Reply